Blog EntryRumah CintaFeb 19, '07 10:05 PM
for everyone

 

 

Hatiku terasa mencelos begitu mendapati sepeda motor itu bukan milik pak Ahmad. Makelar rumah itu berjanji akan bertemu dengan kami di rumah pak Sujud, yang rumahnya hendak kami beli. Namun yang tengah berbincang dengan pak Sujud di ruang tamu itu sepasang suami istri. Dan bisa ditebak, topiknya adalah penjualan rumah.

Bu Sujud menerima kami di beranda yang nyaman, sampai sekitar lima menit kemudian pak Ahmad datang.

 

Pupus sudah mimpi yang kami yakini. Sekitar tiga minggu lalu kami melihat-lihat rumah itu. Letaknya tak jauh dari kontrakan kami sekarang. Aku langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Rumahnya bersih, dan tata ruangnya sesuai dengan yang kubayangkan. Namun kami tak gegabah untuk segera memutuskan ya. Masih mencoba survey rumah lain, serta konsultasi ke bank, tentang KPR yang hendak kami ambil sedianya rumah idaman telah kami dapatkan.

 

Namun setelah naik turun emosi dan kecapekan hampir tiap akhir pekan ke Depok (belajar menghargai usaha teman yang mencarikan), keyakinan kami bahwa rumah pak Sujud pilihan yang tepat harus berbalas kekecewaan. Kami keduluan oleh peminat yang baru dua hari sebelumnya melihat-lihat. Dia datang selepas maghrib dengan membawa uang tanda jadi, sedangkan kami selepas isya’.

 

Pandangan pak Ahmad yang kecewa bagiannya 2,5% dari harga jual melayang tak mampu disembunyikan. Pun dari kami berdua. Kalau toh ada yang lega, mungkin Ais. Dia memilih rumah di Depok Mulya yang sehari sebelumnya kami survey. Halamannya luas dan bertingkat sesuai keinginannya.

 

Pulang membawa sejuta perasaan, ada banyak pelajaran yang kudapatkan. Aku cenderung spontan, sedang suami lebih banyak pertimbangan. Aku nekat dan suka mengambil resiko sementara suami lebih sering bermain aman. Tak ayal kegagalan itu sempat meningkatkan ketegangan antara kami. Saling menyalahkan tak kami pendam. Untungnya, bicara kami masih dengan kepala dingin. Sisi baiknya, kami jadi lebih tahu isi kepala masing-masing sehingga tak perlu terjadi salah prasangka.

 

Usai memuntahkan semua, aku memilih menonton tivi sebagai pengobat kecewa. Sedang suami, meraih Pos Kota sabtu lalu, dan memberi beberapa coretan dengan stabillo di halaman iklan rumah dijual.

 

Dari kasus itu aku belajar bahwa kita harus pintar-pintar membaca moment. Kapan harus bergerak cepat, dan kapan harus menunggu dulu. Sayangnya, dalam hal ini, ada waktu memburu di belakangku yang bisa mempengaruhi keputusan. Benar kata orang bahwa membeli rumah seperti berjodoh saja. Kadang apa yang menurut kita sudah pas, malah keduluan orang. Parahnya, kita menyadari bahwa dia yang terbaik sejauh ini justru setelah lelah membandingkan (yang tak kan pernah usai lantaran nafsu kita akan kesempurnaan).

 

Nothing perfect in this world. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Termasuk pasangan hidup, atau rumah sudah jadi yang hendak kita beli. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tinggal bagaimana kita menyiasatinya agar terasa nyaman.

Namun satu hal yang selalu kuyakini jika menghadapi kekecewaan atas apa yang kuinginkan, bahwa Allah memiliki rencana di balik itu semua. Mungkin yang menurut kami baik justru akan membawa ketidakbaikan. Begitu pun sebaliknya.

 

Sebelumnya aku sudah mengultimatum tak akan ikut cawe-cawe lagi kalau tak di Depok itu. Sementara dia seribu prosen yakin tak mau. Namun melirik wajahnya yang teduh, lelap di kursi samping kumengetik sekarang ini, aku berjanji untuk setia mendampingi apapun keputusannya. Dia, sebagai kepala rumah tangga merasa harus melakukan yang terbaik bagi keluarganya. Bagi aku dan Ais yang sangat dicintainya. Meski kadang kehati-hatiannya sering kusalah artikan tak berani mengambil resiko atau wujud kepengecutan, itu tak menggoyahkannya.

 

Ah, jadi ingat rumah di Sidoarjo yang sempat menguji cinta kami. Kalau waktu itu kami lulus padahal masalahnya lebih kompleks, kenapa sekarang justru harus tercabik lagi? Ah, rumah cinta, akan selalu ada di dalam dada. Tak peduli bangunan fisiknya harus lebih lama kami jumpa, atau bercapek-capek survey lagi kesini kesana. Biarlah kunikmati proses pencarian ini. Sembari aku, kami, terus berproses saling menghargai.

 

Malaka Sari, 19/02/07 23.47


abhicom2001 wrote on Sep 13, '07

 

 

Hatiku terasa mencelos begitu mendapati sepeda motor itu bukan milik pak Ahmad. Makelar rumah itu berjanji akan bertemu dengan kami di rumah pak Sujud, yang rumahnya hendak kami beli. Namun yang tengah berbincang dengan pak Sujud di ruang tamu itu sepasang suami istri. Dan bisa ditebak, topiknya adalah penjualan rumah.

Bu Sujud menerima kami di beranda yang nyaman, sampai sekitar lima menit kemudian pak Ahmad datang.

 

Pupus sudah mimpi yang kami yakini. Sekitar tiga minggu lalu kami melihat-lihat rumah itu. Letaknya tak jauh dari kontrakan kami sekarang. Aku langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Rumahnya bersih, dan tata ruangnya sesuai dengan yang kubayangkan. Namun kami tak gegabah untuk segera memutuskan ya. Masih mencoba survey rumah lain, serta konsultasi ke bank, tentang KPR yang hendak kami ambil sedianya rumah idaman telah kami dapatkan.

 

Namun setelah naik turun emosi dan kecapekan hampir tiap akhir pekan ke Depok (belajar menghargai usaha teman yang mencarikan), keyakinan kami bahwa rumah pak Sujud pilihan yang tepat harus berbalas kekecewaan. Kami keduluan oleh peminat yang baru dua hari sebelumnya melihat-lihat. Dia datang selepas maghrib dengan membawa uang tanda jadi, sedangkan kami selepas isya’.

 

Pandangan pak Ahmad yang kecewa bagiannya 2,5% dari harga jual melayang tak mampu disembunyikan. Pun dari kami berdua. Kalau toh ada yang lega, mungkin Ais. Dia memilih rumah di Depok Mulya yang sehari sebelumnya kami survey. Halamannya luas dan bertingkat sesuai keinginannya.

 

Pulang membawa sejuta perasaan, ada banyak pelajaran yang kudapatkan. Aku cenderung spontan, sedang suami lebih banyak pertimbangan. Aku nekat dan suka mengambil resiko sementara suami lebih sering bermain aman. Tak ayal kegagalan itu sempat meningkatkan ketegangan antara kami. Saling menyalahkan tak kami pendam. Untungnya, bicara kami masih dengan kepala dingin. Sisi baiknya, kami jadi lebih tahu isi kepala masing-masing sehingga tak perlu terjadi salah prasangka.

 

Usai memuntahkan semua, aku memilih menonton tivi sebagai pengobat kecewa. Sedang suami, meraih Pos Kota sabtu lalu, dan memberi beberapa coretan dengan stabillo di halaman iklan rumah dijual.

 

Dari kasus itu aku belajar bahwa kita harus pintar-pintar membaca moment. Kapan harus bergerak cepat, dan kapan harus menunggu dulu. Sayangnya, dalam hal ini, ada waktu memburu di belakangku yang bisa mempengaruhi keputusan. Benar kata orang bahwa membeli rumah seperti berjodoh saja. Kadang apa yang menurut kita sudah pas, malah keduluan orang. Parahnya, kita menyadari bahwa dia yang terbaik sejauh ini justru setelah lelah membandingkan (yang tak kan pernah usai lantaran nafsu kita akan kesempurnaan).

 

Nothing perfect in this world. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Termasuk pasangan hidup, atau rumah sudah jadi yang hendak kita beli. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tinggal bagaimana kita menyiasatinya agar terasa nyaman.

Namun satu hal yang selalu kuyakini jika menghadapi kekecewaan atas apa yang kuinginkan, bahwa Allah memiliki rencana di balik itu semua. Mungkin yang menurut kami baik justru akan membawa ketidakbaikan. Begitu pun sebaliknya.

 

Sebelumnya aku sudah mengultimatum tak akan ikut cawe-cawe lagi kalau tak di Depok itu. Sementara dia seribu prosen yakin tak mau. Namun melirik wajahnya yang teduh, lelap di kursi samping kumengetik sekarang ini, aku berjanji untuk setia mendampingi apapun keputusannya. Dia, sebagai kepala rumah tangga merasa harus melakukan yang terbaik bagi keluarganya. Bagi aku dan Ais yang sangat dicintainya. Meski kadang kehati-hatiannya sering kusalah artikan tak berani mengambil resiko atau wujud kepengecutan, itu tak menggoyahkannya.

 

Ah, jadi ingat rumah di Sidoarjo yang sempat menguji cinta kami. Kalau waktu itu kami lulus padahal masalahnya lebih kompleks, kenapa sekarang justru harus tercabik lagi? Ah, rumah cinta, akan selalu ada di dalam dada. Tak peduli bangunan fisiknya harus lebih lama kami jumpa, atau bercapek-capek survey lagi kesini kesana. Biarlah kunikmati proses pencarian ini. Sembari aku, kami, terus berproses saling menghargai.

 

Malaka Sari, 19/02/07 23.47

"Ah, jadi ingat rumah di Sidoarjo yang sempat menguji cinta kami. Kalau waktu itu kami lulus padahal masalahnya lebih kompleks, kenapa sekarang justru harus tercabik lagi? Ah, rumah cinta, akan selalu ada di dalam dada. Tak peduli bangunan fisiknya harus lebih lama kami jumpa, atau bercapek-capek survey lagi kesini kesana. Biarlah kunikmati proses pencarian ini. Sembari aku, kami, terus berproses saling menghargai."

Saya cr cr di MP ini cerita ttg rumah sidorajo kok ga nemu ya....

*lagi seru2nya baca Postingan njenengan heheheh
lembarkertas wrote on Sep 17, '07
Hehe...juga. Emang nggak saya tulis. Menggarami luka namanya. Kebayang kan betapa sakitnya. Biarlah dia tetap jadi seonggok cerita usang di pojk dada. Cie....
abhicom2001 wrote on Sep 17, '07
some stories are meant to be sealed ;))
lembarkertas wrote on Sep 17, '07
some stories are meant to be sealed ;))
Nggih Pakdhe. :p Nggak semua cerita, meski berhikmah bisa kita obral n jadi konsumsi publik. Terus terang, itu sebenarnya berat buat saya yang kata teman2 seperti 'buku terbuka'. Hehe...
abhicom2001 wrote on Sep 18, '07
kalo suatu saat terbuka lagi bukunya....pasti saya yang pertama baca heheheh ;))
lembarkertas wrote on Sep 19, '07
kalo suatu saat terbuka lagi bukunya....pasti saya yang pertama baca heheheh ;))
Lha, ini sudah n masih dibuka Mas. Cuma nggak sembarangan buka halamannya. Ada cerita realis dan surealis yang mungkin harus dibuka pas disesuaikan sama pembaca. Hehe...
abhicom2001 wrote on Sep 19, '07
ya sapa tau aza suatu saat salah buka lembar kertas...nmamanya juga manusia hihihih :D
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.