Kamis sore, 22 Mei 2008, aku terbangun dari tidur siang dengan perasaan sama. Suntuk penuh ketidaksabaran karena sudah mendekati tanggal perkiraan kelahiran tapi si kecil belum ada tanda-tanda mau keluar. Perasaan itu baru berbalik 180 derajat ketika kutemui bercak darah di pakaian dalam. Perkiraanku, berdasarkan pengalaman melahirkan sebelumnya, paling lambat besok si kecil akan nongol ke dunia. Kebetulan, hari Jumat itu adalah waktuku kontrol dokter.
Esoknya, sengaja membawa tas berisi perlengkapan sekalian, aku diantar suami ke rumah sakit. Dalam perjalanan, kontraksi mulai kurasakan meski belum terlalu menekan. Intervalnya pun masih belum konstan. Saat dilakukan pemeriksaan dalam, ternyata sudah bukaan dua. Dokter menyarankan aku segera ngamar agar bisa dilakukan observasi. Menurut rencana, jika dalam empat jam tak ada perkembangan berarti dokter akan memberi induksi. Ini lantaran ketuban sudah banyak berkurang dari terakhir kali kontrol. Jika dibiarkan tanpa induksi khawatir membahayakan kondisi janin. Waktu itu menjelang jam 11 siang.
Harap-harap cemas, membayangkan sakitnya diinduksi kalah oleh kebahagiaan karena si kecil yang sudah bertahun-tahun kami nanti—bahkan dengan dua kali kiret sebelumnya—akan segera menambah ceria hari-hari kami. Di ruang observasi, suster segera memasang alat CTG untuk mengukur hiss (kontraksi) dan denyut jantung bayi. Si kecil juga direkam gerakannya lewat tombol yang kutekan setiap merasa dia bergerak. Suster beberapa kali mengernyit dengan hasilnya. Selain kontraksinya tercatat tak signifikan, justru denyut bayi drop dan gerakannya termasuk jarang. Bahkan dibel—dibunyikan semacam klakson di perut—pun dia tak banyak bereaksi.
Setelah hasil diberikan pada dokter, observasi dilakukan dua jam lagi. Rentang waktu itu kumanfaatkan untuk jalan-jalan atau mencoba tidur. Dipasangi alat CTG yang kedua, kondisi si kecil justru memburuk. Denyut jantungnya bahkan sampai drop ke 70. Padahal normalnya 120-160. Belum ada seperempat jam hasil diberikan dokter di bawah, suster sudah kembali dengan berita yang sangat mengejutkan.
“Makan dan minumnya sudahan dulu ya Bu (untung waktu itu aku sudah menghabiskan jatah snack siang). Ibu harus puasa untuk persiapan operasi,” katanya.
Aku seketika terlolong, “Operasi?”
“Denyut jantung janin lemah sekali. Dokter khawatir terjadi gawat janin. Sekitar satu jam lagi operasi. Ada keluarga yang bisa dihubungi?”
Segera kutelepon suami yang baru saja sampai di rumah sepulang sholat Jumat. Baru beberapa menit lalu aku membalas SMSnya yang mengabarkan bahwa semua baik-baik saja.
Selanjutnya, semua berjalan dengan cepatnya. Suster silih berganti datang memberiku baju operasi, memintaku melepas semua perhiasan, memasang oksigen, infus, juga klisma. Suamiku muncul dengan raut tak terjemahkan. Dia sendiri paling enggan kalau harus berurusan dengan dokter, rumah sakit, dan jarum suntik. Ini malah istrinya harus operasi--meski bukan untuk yang pertama. Sayang, Ais tak diijinkan masuk untuk memberiku tambahan kekuatan.
Soal biaya, sempat menjadi pikiranku juga. Dengan induksi, jelas tambahan biaya 10% dari perkiraan biaya normal yang sudah kubaca di formulirnya saat pesan ruang. Operasi caesar, jelas akan melebihi plafon dari asuransi perusahaan. Apalagi kami ambil kamar utama yang hanya diisi satu orang. Pertimbangan kami, jam bezuknya tak dibatasi dan keluarga boleh ikut menginap. Di kelas 1 dan bawahnya, itu tak memungkinkan. Padahal aku perlu memberi perhatian pada Ais yang sedang sibuk ujian. Hari Minggu dia ujian kenaikan sabuk taekwondo, Senin dan hari selanjutnya ulangan harian akhir semester di sekolahnya sedangkan sorenya ulangan di TPA. Namun mengingat bahwa ini semua demi sebuah jiwa yang telah begitu lama kami nanti bahkan harus melalui dua kali gagal, semua perhitungan ekonomis tak lagi berarti. Itung-itung, suami mungkin juga mau membayar kekurangnyamanan yang kurasakan saat melahirkan Ais dulu.
Saat melahirkan Ais aku memilih pertolongan bidan. Malu, tak ada dokter obgyn perempuan. Mau pesan kamar yang lebih layak pun tak ada. Mau yang kelas VIP pas bokek, khawatir tak terkaver karena belum gajian, tak cukup uang cashnya. Diganti kantor sih sebenarnya, tapi nanti. Akhirnya aku di kelas 3 yang berderet 5 (seingatku) tempat tidurnya. Maka, yang perlu kupersiapkan saat ini hanyalah mental. Menghilangkan kekagetan karena melahirkan normal sudah jadi ‘cita-citaku’ sejak semula.
Jam tiga, baru dokter cantik yang baik hati dan ramah serta komunikatif itu datang dan menjelaskan semuanya. Ada indikasi si kecil kekurangan oksigen juga. Itulah mengapa jalan persalinan normal—yang dia tahu ingin sekali kutempuh—tak bisa dilakukan.
“Setengah empat kita operasi ya,” katanya sebelum meninggalkanku. Sempat ditawarkannya pula obat pereda nyeri kontraksi. Toh merasakan atau tak merasakan kontraksi tak lagi berarti. Tapi kutolak karena kupikir biarlah kunikmati sensasi alamiah yang indah sekaligus menyiksa ini.
Didorong di atas brankar masuk ke ruang operasi, jujur, bukan rasa takut yang kurasakan. Pengalaman kiret dua kali bagiku lebih menyakitkan—secara psikologis. Selain karena harus kehilangan calon bayi, bius total yang kualami terus terang menimbulkan trauma. Proses dari kondisi terbius menuju sadar itu sempat membuatku ‘lost’, berada di dunia antah berantah yang sempat kukira alam kubur.
Di operasi caesar, aku dibius spinal. Jadi hanya tubuh dari perut ke bawah yang mati rasa. Kesadaran masih sepenuhnya kumiliki. Apalagi bagi pengalaman Syasya sebelumnya terus terang sempat membuatku ingin tahu lebih tentang caesar. Tak dinyana, harus kualami sendiri akhirnya.
Begitulah, setelah perutku kebas, dibuatlah sayatan sepanjang kira-kira sepuluh centi. Dapat kuikuti prosesnya dari lampu operasi yang menjadi ‘cermin’ kejadian di bawah sana. Baju operasi yang hanya berupa dua lembar kain dengan tali di kanan kiri, bagian depannya dicantolkan di sebentuk besi, menjadi tirai di hadapanku. Dokter sempat bercanda mestinya memasang spion besar yang biasa dipasang di tikungan jalan agar aku bisa jelas melihat. Ini lantaran aku crewet minta lampu operasi diarahkan agak ke arahku. Pasien langka katanya. Biasanya ibu-ibu takut dioperasi, ini malah ingin melihatnya dengan jelas.
Dalam kesadaran penuh kunikmati detik-detik hingga sebentuk kepala dengan rambut tebal hitam di atasnya dikeluarkan dari dalam rongga rahimku yang nyaman. Beberapa detik kemudian, menyusul bagian tubuh lain keluar, terdengarlah jeritan. Alhamdulillah, tepat pukul 16.05, gadis cantik yang kemudian kuberi nama Yasmina Jaladri Hilmy itu lahir ke dunia. Yasmina berarti melati—nama yang baru kutemukan di detik-detik terakhir demi tahu dia perempuan. Jaladri Hilmy yang sudah lama kusiapkan terlalu macho buatnya yang imut dan cantik. Jaladri berasal dari bahasa Jawa yang berarti samudra, sedangkan Hilmy dari bahasa Arab yang kalau tak salah berarti ilmu.
Sayang, inisiasi menyususi dini yang kupahami dan kuharapkan tak bisa terlaksana. Baru setelah si kecil dibawa keluar, dan sayatanku dijahit, aku merasa pusing dan ngantuk. Sekitar pukul lima sore aku sudah berada di ruang pemulihan.
Di ruang pemulihan, barulah ketidakenakan caesar kurasakan. Efek dari biusnya, juga sakit di bawah perut lantaran sayatan itu. Yang jelas juga terasa, dingin yang tak tertahankan. Aku sampai pakai selimut dobel. Ingin meringkuk jelas tak bisa. Minum pun dibatasi. Tapi masih mending boleh langsung minum, tak perlu menunggu kentut dulu. Aku tak dipindah sebelum bisa mengangkat pantat. Jangankan mengangkat pantat pindah tempat tidur. Mengangkat kaki pun sulitnya bukan main. Bahkan seolah tak nyambung antara keinginan dan gerakan. Kakiku kurasakan sempat bergerak sendiri. Semacam tremor gitu.
Tepat lima jam kemudian baru aku dibawa ke kamar. Tepat jam sepuluh malam. Itupun aku harus cerewet mengingatkan suster. Tak sabar lantaran calon pasien operasi--getah bening entah apa--di sebelahku membawa masuk ‘pasukannya’, suami dan dua anaknya yang masih kecil. Berisiknya itu lho. Dalam kondisi normal, mungkin aku fine-fine aja bahkan suka. Tapi ini, aku ingin segera istirahat. Aku juga jujur sebenarnya iri karena sebelumnya Ais mau masuk harus ijin dulu itupun hanya boleh sebentar. Mungkin perawat jaganya sudah ganti atau orang ini kenal sama perawatnya. Entahlah.
Sampai di kamar, kudapati Ais, suami, dan kedua mertua ada di sana. Mencoba memberi ASI ekslusif, sekaligus tak sabar ingin menimang si kecil aku minta agar rawat gabung. Wah, amazing sekali melihat si kecil yang tampak imut itu. Dia berkulit bersih (tak segelap kakaknya dulu), berambut lebat lurus sepertiku. Bibir, matanya dengan bulu mata panjang, dagu lancip, hidung cenderung pesek, tak jauh beda dengan kakaknya. Jemarinya amat imut lentik. Alhamdulillah, anakku sempurna, cantik.
Sayang, malam itu ASIku belum keluar. Si kecil rewel. Meski sebenarnya dalam tiga hari bayi tak diberi cairan tak apa-apa (dia punya persediaan di tubuhnya) tapi lantaran desakan mertua yang kasihan lihat Yasmin rewel seperti itu, suami terpaksa mencarikan susu formula. Sebelumnya dia harus menandatangani formulir tak jadi ASI ekslusif. Si kecil juga minum susu khusus non alergi karena aku punya riwayat alergi. Untungnya masih tersedia di apotik di bawah.
Agar aku dan kakaknya yang tampak kepayahan bisa istirahat, si kecil kukembalikan di ruang bayi saja. Baru esoknya percobaan mengeluarkan ASI itu kami lakukan lagi dan alhamdulillah berhasil. Selama 24 jam aku hanya boleh tiduran, belajar baring kiri kanan. Belum kuat meski hanya untuk duduk saja.
Jam lima esoknya, hari Sabtu, baru aku diperbolehkan belajar duduk, lalu turun dari ranjang. Dalam persalinan normal, seingatku empat jam si ibu sudah bisa jalan. Sebelumnya infusku dilepas, juga kateter. Aku harus ‘melatih’ kembali alat vital yang satu itu untuk berfungsi secara normal. Rasanya aneh sekali. Bahkan ada sedikit kekhawatiran ngompol jika ternyata belum bisa menahan pipis. Syukurlah itu tak terjadi. Dokter sempat visit meski jam menunjukkan pukul 11 malam. Senin, baru perbanku rencananya diganti dengan yang tahan air agar bisa mandi.
Hari Minggu, bete mulai kurasa. Selain karena perasaan berat di kepala, leher dan punggung itu, aku juga mulai ‘menghitung hari’. Kata dokter, biasanya sekitar 4 atau 5 hari pasien baru boleh pulang. Lha ini hari ketiga aja aku teringat Ais terus? Meski ada mertua, mamanyalah yang paling tahu bagaimana menangani dia. Siapa yang akan menemaninya belajar? Tapi semua kucoba tahan. Terakhir telpon, dia baru pulang dari ujian taekwondo di Pasar Minggu dan berencana ikut kakeknya menjenguk si adik. Sekitar jam 4 sore waktu itu.
Tak sengaja, aku tengah di kamar mandi, sendiri—tanpa bantuan suami maksudnya—ketika dokter datang. Sebenarnya rencana visitnya besok. Tapi karena khawatir tak bisa, beliau menyempatkan diri sekarang. Mendapati aku sudah bisa jalan-jalan sendiri, desakanku untuk pulang saat itu juga dikabulkan. Perban diganti, dibekali obat, maka segeralah kami mengurus semua birokrasinya. Teler juga sebenarnya karena aku belum pulih sepenuhnya. Tapi secara psikologis akan lebih menguntungkan jika aku berada di rumah, bisa mendampingi Ais selalu terutama.
Biaya, jangan ditanya. Terhitung mahal, tapi alhamdulillah excess masih terkaver oleh kami.
“Emang udah rejekinya si Yasmin. Papanya sering lembur sebelumnya,” kata suami.
Untungnya lagi, pas mau pulang, sahabat sekaligus tetangga kami (Mashudi-Ike-Ibu) datang. Sekalian deh, ada mobil gratis, tak perlu repot-repot panggil taksi. Maka sekitar pukul 8 kami sudah sampai di rumah. Welcome home Hilmy (nama yang sering kupakai saat masih dalam kandungan karena yakin, atau kepingin dia laki-laki).
Lalu, apakah syakeetnya sudah selesai? Ternyata belum Saudara Saudara. Tapi lantaran sudah melewati jam malam, kuputuskan sampai di sini dulu saja. Biasanyanya jam satu atau dua Yasmin ngajak bangun sampai subuh. Suami dan Ais sudah sedari tadi menemaninya di kamar bersama. Udah ngantuk juga nih…oahmmm… (Ind)
Tanah Baru, 02/07/08 00.30