Blog EntryJaminan KeselamatanJul 1, '08 9:52 PM
for everyone


 

Aku pulang membawa kelegaan. Dengan obat di tangan, kuharap gangguan gatal yang selama tiga hari tiga malam ini mendera tak lagi berkutik karenanya. Juga, ternyata kartu asuransi dari kantor suami yang tinggal gesek di kasir masih ‘sakti’. Maka biaya untuk konsultasi ke dokter spesalis kulit serta obatnya tak perlu merogoh kantung sendiri.

 

Kembali ke tempat parkir aku seketika teringat si Mbak. Pembantuku yang hanya bertugas nyuci setrika dan bersih-bersih rumah itu beberapa hari lalu mendapat cobaan. Anak (baru) satu-satunya yang berusia 3 tahun jatuh tersungkur, entah bagaimana kepalanya kena batu hingga robek.

 

Sehari sebelumnya dia sudah nggak masuk kerja. Dan seperti biasanya, tak pamit apa-apa. Baru besoknya ketika masuk memberi alasan ketidakhadirannya. Di hari kedua ketidakdatangannya, dia lewat sambil menggendong anaknya. Dari rumahnya di kampung sebelah perumahan, dia hendak membawa si anak yang kepalanya bocor itu ke Puskesmas atau dokter umum tetanggaku di perumahan. Namun keduanya tak bisa memberi pertolongan.

 

Mampir ke rumah, memberi alasan libur kerja kemarin (ternyata si anak sakit, makanya sempat kehilangan keseimbangan saat didudukkan) dan hari ini, dia memperlihatkan juga anak di gendongannya dengan luka di kepala pada suami. Sayang, dia menolak saat suami menawarkan bantuan untuk mengantarnya ke dokter. Dengan diantar kakak perempuannya, mereka menuju ke seorang mantri praktek. Sayangnya, si mantri ini tak melakukan penjahitan di luka yang robek. Entah kenapa. Bahkan terkesan pertolongan yang diberikan ala kadarnya. Apesnya, dengan pertolongan yang minimal, si mbak harus merogoh kocek lumayan besar baginya. Apesnya lagi, dia kehabisan ongkos pulang. Jarak dari praktek mantri ke rumah yang sekitar 2 kilometer yang jika naik angkot musti bayar 2500 ditempuhnya dengan jalan.

 

“Nggak pernah jalan kaki segitu, sambil nggendong si Dika, lumayan capek juga Bu. Mana panas lagi,” katanya.

 

Aku sedikit menyalahkannya kenapa menolak bantuan suamiku waktu itu. Kutanyakan juga perkembangan si kecil.

“Itulah Bu. Kok perbannya basah seperti ada darah merembes gitu ya? Kemarin nggak dijahit. Cuma dikasih obat betadine atau apa trus diperban. Katanya suruh buka kalau udah 3 hari.”

“Lha Dikanya sendiri gimana?”

“Nggak mau makan. Dieem aja.”

“Kok kemarin nggak langsung dibawa ke B (dokter anak langganannya)?” tanyaku lagi.

“Lha, saya cuma pegang duit 50 ribu. Bla bla bla…”

 

Aku manggut-manggut mendengar penjelasannya. Dengan gaji pembantunya dan gaji suaminya yang jika digabung hanya beberapa ratus ribu, aku bisa membayangkan keadaan ekonominya. Maka pulangnya kuberi dia sejumlah rupiah.

 

“Buat Dika,” kataku. “Bawa ke B saja.”

“Enaknya besok nunggu tiga hari lagi atau sekarang ya Bu?” tanyanya setelah mengucap terimakasih dan berjanji akan menggantinya dengan potong gaji--yang kujawab tak usah saja.

 

“Terserah kamu. Tapi menurutku sih sebaiknya sekarang. Udah ada dana, nunggu apalagi? Daripada tambah buruk,” jawabku. Maka berlalulah dia.

 

Esoknya, dia melaporkan bahwa si anak sudah dibawa ke B. Sempat dipaido (diomeli, Jw) sama dokternya kenapa nggak langsung dibawa ke dia. Dengan lirih dia menjawab bahwa tak ada uang. Lukanya dibuka, dibersihkan lagi, lalu diobati.

 

Dapat kubayangkan, bagaimana kondisinya di tempat dokter waktu itu. Dapat pula kubayangkan bagaimana dia dengan segala kepanikan membawa-bawa anaknya yang luka di kepala ke tempat yang diharapkan bisa membantunya dengan uang ala kadar. Lalu berjalan pulang dari mantri di bawah terik siang si sepanjang jalan berdebu dan full asap kotor kendaraan dengan menggendong si buah hati. Sungguh, aku mencoba berempati, membayangkan bagaimana jika yang di posisinya adalah aku.

 

Sebelum berada dalam taraf ekonomi yang membaik seperti sekarang ini, aku pun pernah was-was membawa Ais yang sakit ke klinik karena uang yang kupunya pas-pasan saja sementara tak ada saudara yang bisa dimintai pertolongan. Yuni dan keluarganya, bukanlah satu-satunya warga masyarakat yang harus berjuang mati-matian untuk memenuhi kehidupan yang bisa dianggap layak. Bahkan pasti lebih banyak lagi yang lebih tidak seberuntung dirinya. Kisah semacam itu menjadi santapan kita sehari-hari di koran, majalah, tabloid, juga berita di televisi. Pasti ada keinginan untuk sedikit mengulurkan tangan, dan akan lebih mudah jika mereka adalah orang-orang di sekitar kita yang kita kenal.

 

Mencoba mengambil hikmah lebih jauh, aku berpikir tentang kampung akhirat. Harta yang dimiliki seseorang mungkin bisa diibaratkan sebagai pahala di akhirat nanti. Orang yang banyak ‘harta’  tentu tak akan bingung di kampung sana. Bahkan, dia mungkin bisa memasuki surga melewati pintu yang manapun yang dia suka. Ini berbeda dengan orang yang sedikit pahalanya. Hendak kemana lagi dia mencari pertolongan di hari semua sudah membawa bekalnya sendiri-sendiri? Pintu yang manakah yang akan terbuka untuk dirinya? Ruang yang manakah yang kan tersedia sesuai ‘kelasnya’?

 

Mencoba berkaca, aku tak yakin bahwa kondisiku di akhirat nanti (jika sewaktu-waktu dipanggil-Nya pulang) sama seperti sekarang, ada jaminan ‘kesehatan dan keselamatan’. Bagaimana jika di akhirat nanti aku papa tanpa pahala yang bisa kubawa? Entahlah.(Ind)

 

Tanah Baru, 01/07/08 22.03


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.