Salah satu hal remeh namun berpotensi menimbulkan konflik rumah tangga adalah alokasi waktu bersama. Waktu di akhir pecan atau liburan yang biasanya diisi dengan acara keluarga itu bisa jadi malah menarik urat leher kita kencang-kencang, meski niat awalnya untuk merelakskan. Akhir minggu ini, saya mengalami, bahkan bisa dibilang lebih ‘hebat’ dari yang sebelum-sebelumnya.
Biasanya, jika kami hendak keluar di akhir pekan, saya harus tegang dulu dengan keleletan dua ‘anak’ saya. Anak yang pertama memang baru lima tahun yang kadang masih butuh bantuan. Namun yang lebih menyebalkan justru ‘anak’ yang besar, yang tiga dasa warsa lebih usianya.
Saya memahami, bahwa Senin ke Jumat adalah hari kerjanya. Jadi di luar hari itu, adalah waktu bebasnya. Mau tiduran sambil melalap berbagai Koran seharian, atau sepedaan keliling kompleks sama anak, adalah hak dia. Seandainya mau pergi pun, dia cenderung menyiput alias bergerak lamban. Penginnya males-malesan.
Padahal bagi saya, Senin ke Minggu adalah hari kerja semuanya (meski kadang jadi hari libur seutuhnya pula). Namun setidaknya, saya selalu berusaha membuat kotak-kotak waktu. Mau dialokasikan untuk apa dan apa. Mungkin ini lantaran kebiasaan yang saya bawa dari keluarga besar. Ibu yang penjual makanan matang, utamanya menyediakan sarapan, tentu sangat strict menepati jadwal. Selalu ada sebab akibat. Jika hal ini tak diselesaikan jam segini, akan ada dampak seperti ini. Kesiplinan waktu yang diajarkan ibu tanpa banyak kata, sudah mendarah daging rasanya.
Beberapa Sabtu Minggu ini, emosi, waktu, dan tenaga kami banyak tersedot untuk mencari rumah. Menjadi seorang ‘kontraktor‘ (masih kontrak rumah maksudnya) memang berbeda dengan kontraktor gedung misalnya. Jadi kami ingin segera mengakhiri ‘profesi’ itu dengan memiliki rumah sendiri.
Repotnya, dengan dana seadanya, tentu pilihan juga semakin sempit. Selain karena suami juga termasuk cerewet dengan maksud memberi yang terbaik bagi anak istrinya sesuai koceknya. Itulah yang menyebabkan rumah yang kami idamkan belum ketemu juga. Sayangnya, ada kotak kegiatan di waktu bersama saya yang tak hendak saya tinggal lama-lama: pertemuan FLP DKI di Yarsi.
Maka, pagi menjelang siang itu saya melakukan kudeta kekuasaan atau pencongkelan kepemimpinan suami. Jadi ketawa juga sekarang membayangkan dia berkata, “Ingat, aku nggak ngasih ijin kamu keluar.”
Khawatir juga sih waktu itu, wong Rasul sendiri bersabda, seandainya diperbolehkan seorang manusia menyembah ke manusia lain, maka seorang istrilah yang akan diperintah menyembah kepada suaminya.
Belum lagi tentang ayat bahwa seorang rijal/ laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Masalahnya, apakah ayat itu harus kita telan begitu saja? Apapun kondisinya selagi tak menyalahi perintah Allah dan Rasul seorang wanita harus manut? Pun laki-laki bisa seenaknya memerintah tanpa pertimbangan matang?
Seorang laki-laki, memang layaknya memimpin perempuan. Namun dalam beberapa kasus, say atemui juga lelaki yang tak mamapu mengeksploitasi kepemimpinannya itu. Jika seperti itu kondisinya, apa perempuan manut saja? Bahkan dalam sholat pun (yang notabene bercumbu langsung denga Tuhan), jika imam berbuat kesalahan makmum wajib mengingatkan. Apatah dalam kegiatan sehari-hari.
Untuk menadi imam pun seorang lelaki tak sendirian. Di balik orang-orang besar, selalu kita temui istri-istri yang mendukung kiprah mereka. Tak kentara, namun nyata akibatnya. So, mestinya tak perlu ada pertanyaan tentang ‘kudeta kepemimpinan’ jika masing-masing menyadari mereka takkan mampu berjalan sendirian. Ibarat kaki, suami istri adalah kaki kanan kiri. Jikalau salah satu diamputasi, maka akan pincang jalannya.
Menjawab ‘ancaman tak serius suami’, saya berkata sebelum menstarter motor saya, “Maaf, bukannya mau membangkang. Aku hanya ingin mendidik suami soal kompromi waktu.”
Kejam, dingin? Itulah saya . Lalu mengapa saya pakai kata-kata mendidik di situ? Karena memang saya ingin mendidik dia. Hubungan suami istri adalaherlasi selaras dan seimbang. Tak ada lebih tak ada kurang. Dalam beberapa hal, istri memang harus ambil bagian sebagai ‘guru’ jika suami menjadi murid yang belum paham pelajaran kehidupan. Atau perlu juga menjewer mengingatkan jika sang nahkoda lengah dengan kendali bahteranya, terbuai sepoi angin samudra.
Menjelang jam dua siang, salam yang saya ulurkan bersambut dua suara merdu yang paling ingin saya dengar. Ais dan suami. Di ruang tengah, lelaki berhati lembut (yang selalu bisa memahami saya dengan segala kekerasannya) itu tengah makan jeruk sambil sesekali menyuapi Ais yang asyik main paintbrush di PC.
Angin beliung pagi tadi reda. Kesepahaman, pengertian, cinta kasih, dan fokus ke depan mengambil kendali atas segalanya. Sejenak jeda, kami keluar mencari makan. Sorenya, sepulang mencari rumah lagi yang berakhir belum berhasilnya kami, saya bertanya pada suami, mengapa dia tidak marah lagi. Jawabannya pendek saja. Namun saya mengerti, bahwa di ajuga paham bahwa beberapa minggu sebelumnya saya juga sudah menuruti keputusan dia meski keinginan untuk melakukan sesuatu begitu bergelora. Dia sadar, adakalanya harus memberi saya jeda, menjadi diri sendiri seutuhnya.