Blog EntryGumam Perempuan PahlawanFeb 26, '07 8:48 PM
for everyone

Senyap menyelinap. Dua permataku baru saja lelap. Berjingkat aku turun dari peraduan, dan menjemput kekasihku yang satu, laptop. Aku harus mencumbuinya untuk menunjukkan bahwa aku ada, pada dunia.

 

Membuka file-file yang terlewat, mataku tertumbuk pada sepotong email yang belum sempat kutata di folder seharusnya. Meng-klik filenya, men-scroll down hingga curahan isi dadanya, mengecap kata-katanya, dadaku tiba-tiba terasa sesak. Air mata merebak tanpa mampu kutebak.

 

Ijinkan aku mengutip beberapa kalimat refleksi kebesaran hatinya:

 

Mbak Indar sayang, aku tersanjung lho dg komentarmu tentang keberadaanku di rumah. Tapi aku tak sehebat itu Mbak. Kadang aku juga merasa bukan siapa-siapa, aku hanya sekumpulan waktu yang dimiliki anak-anak & bapaknya. Seringkali aku merasa tak punya hak untuk diriku sendiri. Tak punya karir, tak bisa mengaktualisasikan diri. Kadang aku merasa sudah ’habis’.

 

Giris? Bisa jadi. Dia yang nampak patuh, menikmati dengan telaten dan ikhlas mendidik dan membesarkan ketiga anaknya, dia yang taat pada suaminya, ternyata menyimpan sisi ’gelap’ keakuannya. Namun coba baca kalimat berikutnya:

 

Tapi mungkin takdirku memang menjadi ibu sejati. Kebahagiaanku adalah saat berkumpul dg anak-anak. Saat mereka bertanya tentang segala sesuatu, ketika aku bisa menjawab, aku merasa seperti menjadi pahlawan.

... Tak ada yang istimewa, memang begitu seharusnya. Tapi seperti kata mbak Indar, setiap mujahid mempunyai jalannya sendiri, semoga jalan yang aku tempuh bisa menjadi kenangan terindah buat anak-anak, bahwa segala pengorbananku membonsai segala egoku demi kedamaian mereka, bisa menjadi cermin ketika kelak mereka dewasa.

 

Apakah dia pasrah dan tak bernyali untuk memperjuangkan egonya yang terbonsai? Bisa jadi. Namun kalau hal itu membawa kebahagiaan baginya, tak lagi kepasrahan (dalam artian negative) namanya. Di satu sisi dia harus berkorban, namun di sisi lain dia mendapatkan ganjaran. Belum dari yang di Atas, namun dari ketiga bidadari kecil dan raja rumah tangganya.

 

Kalau boleh mengatakan, itulah yang disebut cinta sejati. Sesuatu yang tak hanya memberi, namun juga menerima. Adalah kepasrahan yang salah jika seandainya dia mengorbankan egonya namun tak mendapat apa-apa. Cinta yang dalam pernikahan disebut sebagai mawaddah mengandung artian saling mengisi, mengerti, saling memberi dan menerima. Di dirinya, di keluarganya, hubungan memberi menerima itu seimbang kubaca.

 

Kasus Mbak ini, agak berbeda kurasa dengan Mbak satu lagi yang kukenal sama-sama berputra tiga. Mbak kedua lebih keras komentarnya tentang ‘pembonsaian’ suami terhadap ego istri manakala aku mengadakan ‘pengajian muslimah’ gara-gara ‘kudeta kepemimpinan’ yang kulakukan. Mungkin proses memberi menerima yang dirasakannya tak setimbang seperti mbak pertama. Ada banyak factor penentu. Mertua, tempat tinggal, karakter suami, dan masih banyak lagi.

 

Satu hal yang kupetik dari mereka berdua, seorang wanita, istri, ibu, akan selalu berperang dengan dirinya. Perang antara egonya yang ingin diakui sebagai sebuah individu (dengan segala prestasi dan aktualisasi diri) dengan tuntutan orang-orang tersayang.

 

Entah akhirnya di rumah secara total atau berbagi dengan dunia luar--menjadi wanita karir juga misalnya--adalah pilihan yang harusnya diambil secara sadar dan dipertanggungjawabkan. Namun dalam hal ini, perempuan itu takkan mampu berjalan sendiri, tanpa dukungan anak-anak dan suami.

 

Malaka Sari, 26/02/07 21.55

Indarpati,

Yang menikmati memunguti gumam perempuan pahlawan

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.