Week
end ini aku benar-benar memanjakan diriku dengan menikmati
film-film bermutu. Beberapa hari sebelumnya aku belajar tentang sifat
manusia dari seorang gadis fresh graduate yang bermimpi
menjadi seorang jurnalis, Andrea, yang justru harus melayani seorang
devil dalam ‘kemasan merk mahal’ bernama Melinda dalam
Devil Wears Prada. Sebuah film yang manis, namun membawa pesan moral
yang dalam. Tentang mengejar impian tanpa patah arang, tentang
menggenggam pilihan hidup yang telah kita jatuhkan, apapun resikonya.
Di
Curse of The Golden Flower, aku yang menikmatinya lewat VCD
sewaan terpaksa kurang puas dengan layar tivi yang hanya 21”.
Kubayangkan, jika dapat menikmatinya di layar lebar, pasti akan lebih
mengagumkan. Sebuah film kolosal yang entah berapa biaya yang
dihabiskannya untuk segala kemegahan semacam itu.
Pakaian
yang serba gemerlap keemasan, interior dan eksterior yang memaksa
decak kekaguman, dan salah satu hal yang paling kunikmati, detil. Ya,
detil ketika proses berpakaian (saat hendak melakukan penyambutan
Kaisar) yang serba teratur ditampakkan, juga saat minuman disajikan.
Pemainnya
pun bintang yang kusuka, Gong Li (yang juga oke punya di Memoirs
of Geisha dan Miami Vice) dan Chow Yun Fat yang
benar-benar nampak beda dari perannya sebelumnya. Dia sedikit
mengingatkan akan perannya di The King And I meski karakter
dua tokoh yang diperankannya berbeda.
Secara
garis besar, film ini becerita tentang intrik dalam sebuah keluarga.
Dan kalau diruntut, bisa aku katakan bahwa segala persoalan berawal
dari perselingkuhan istri Kaisar dengan Putra Mahkota Wan. Meski,
sang istri melakukan itu tentu ada alasannya pula. Sang Kaisar yang
mendapatkan tahtanya dengan jalan tak benar itupun pada akhirnya
harus kehilangan semua orang yang dikasihinya, terutama Wan. Meski
apa yang ditunjukkan mungkin tak mencerminkan isi hati sebenarnya.
Dia asyik menyeruput, menyesap minuman ketika Jai memutuskan bunuh
diri daripada harus meminumkan racun kepada ibunya setiap hari
sebagai imbalan dibebaskannya dia dari hukuman pemberontakan.
Kalaupun
ada sedikit hal yang kusesalkan dari film ini adalah pakaian pemeran
wanitanya. Kemben yang dikenakan, meskipun manis, nampak ‘tidak
sopan’ dengan bukaan yang berlebihan. Kalau sutradara atau penulis
naskahnya (saya lupa siapa) pernah mengaku kalau seluruh gambaran
film ini juga digali dari imajinasi (lantaran terlalu sedikitnya
referensi visual) yang bisa dipakai, kenapa pakaian perempuannya
dipilih yang ‘memanjakan mata’ seperti itu? Atau ini adalah salah
satu teknik ‘menjual’?
Terlepas
dari pakaian perempuannya yang membuat suamiku ‘berkomentar’,
secara keseluruhan, aku amat menikmati film ini meski tak terlalu
menikam tajam efeknya dibanding Memoirs of Geisha.
Usai
jam sebelas malam lebih, merasa belum mengantuk, VCD playerku yang
memiliki tiga wadah CD di dalamnya segera pas terisi dengan Kabhi
Alvida Naa Kehna. Lumayan, tak perlu bangun-bangun untuk
menggantinya. Entah mengapa, aku tiba-tiba merasa kangen dengan
akting King Khan (sebutan Shah Rukh Khan). Sebelumnya sih sebel dan
bete banget karena filmya yang Mohabbatein dan lainnya itu
diputar-putar ulang di tivi. Jadinya magnet aktingnya memudar di
mataku.
Berseloroh
dengan suami, selera filmku malam ini ‘etnik’. Kalau tadi dari
China, sekarang India. Namun ternyata, KANK settingnya di Amerika,
New York kalau tak salah.
Seperti
umumnya film India, nyaris selalu ada lagu di dalamnya. Cuma, yang
ini beda. Tariannya tidak terlalu ‘vulgar dan sesuai pakem’,
musik dan liriknya pun oke punya. Setting juga memperkuat ceritanya.
Tentang orang-orang India kelas atas di Amerika, tentang daun-daun
berguguran di taman, tentang stasiun kereta… angle-nya pas
kutangkap.
Jangan
tanya soal acting SRK, Amitabh Bachchan, Rani Mukherji, dan Preity
Zinta serta Abhishek Bachchan. Sepuluh jari! Rasanya seluruh tubuhnya
ikut ‘berbahasa’.
Perselingkuhan
dalam rumah tangga, tidak bisa dipandang secara hitam dan putih saja,
meski itu tidak berarti membenarkan pelakunya. Ada batas-batas
tertentu yang pada akhirnya, seorang individu hanya akan mendengarkan
kata hatinya, keegoisannya.
Ada
dua scene yang paling aku suka dari film ini. Scene
pertama adalah ketika Dev dan Maya berbasah-basah kehujanan
memutuskan check-in di sebuah penginapan. Langkah keduanya
seolah berkata, bahwa benarkah step yang mereka buat sekarang?
Sebelumnya, hubungan mereka hanya hati, belum melewati batas fisik.
Dengan check-in, mereka akan melintasi batas yang selama ini
mereka jaga. Begitu pun ketika keduanya duduk bersebelahan di
ranjang, berpegangan tangan. Kikuk. Namun toh, sesucinya cinta, ada
nafsu badaniah yang menungganginya. Seolah symbol atas kesempurnaan
penyatuan hati yang mereka rasakan.
Scene
yang akhirnya merontokkan air mataku adalah ketika ibu Dev meminta
ijin menantunya untuk tetap tinggal, agar tak perlu menjawab
pertanyaan Arjun (anak Dev) jika dia pergi juga. Rhea, sang menantu
menyingkirkan segala luka hatinya mengangguk sebagai jawaban. Nenek
anaknya adalah ibunya juga. Kalau yang dianggap bersalah Dev, sang
ibu tak perlu diikutsertakan. Apalagi demi anaknya yang pasti akan
lebih kehilangan dua figure (nenek dan ayah) dibanding satu saja,
ayah.
Yah,
drama India memang selalu mengharu biru. Yang sedikit mengganggu,
pertemuan kedua Dev dan Maya terkesan agak dibuat-buat. Meski seperti
sudah ‘pakemnya’ juga, ada selingan humor di setiap filmnya.
Film
Indonesia? Entahlah. Aku tak pernah tertarik menontonnya. Mungkin
karena lebih banyak memanjakan hasrat keklenikan, atau eksplorasi
jiwa manusia yang kurang dalam. Meski aku yakin satu dua ada yang
benar-benar bermutu juga.
Ah,
CTGF dan KANK (disingkat biar nggak kepanjangan nulisnya ),
benar-benar mengajarkan tentang sisi gelap terang jiwa manusia.
Tontonlah, pasti takkan kecewa! Kalau ‘sekacamata’ dengan saya,
hehe…
Malaka
Sari, 5 Maret ’07 11.28