Blog EntryWajah BaruMar 8, '07 7:56 PM
for everyone


Apakah yang kau lakukan jika tengah bete? Ada saran bagus yang selalu kita dengar, cobalah hal-hal baru, di luar kebiasaan kita selama ini. Namun bagaimana jika kita mencoba hal-hal baru itu saat tidak bete? Ternyata hasilnya sama, bahkan bisa jadi lebih mengejutkan.


Tiga hari terakhir, aku seolah merasa dikejar waktu. Ya, kehormatan merevisi buku dari seseorang benar-benar memacu adrenalinku. Naskah setebal kira-kira 230 halaman itu harus kuselesaikan dalam jangka 10 hari jika ingin mendapat nilai A. Meski seolah berlari, namun kebiasaanku njagong bersama keheningan malam rasanya sangat membantu dalam hal ini.


Yang menjadi sedikit masalah kemudian adalah si Mas ini juga meminta kualitas sama dengan tulisan kisah nyataku yang rencananya hendak dibukukan bersama karya penulis lainnya. Hal itu tak menjadi masalah besar seandainya gaya “bicara” yang ada di naskah yang harus kurevisi itu sesuai dengan gayaku “berbicara”. Belum lagi referensi seabrek yang tentu perlu waktu mencari dan membacanya.


Namun okelah, karena ternyata daya tahanku masih bisa diandalkan dan beberapa bab selesai sesuai dengan skedul yang kubuat sendiri, aku merasa boleh memberi hadiah sedikit. Ya, aku hendak bersenang-senang mengendurkan syaraf di kepala. Caranya?


Kuedarkan pandangan, mataku tertumbuk pada rak piring dari plastik yang sudah ndoyong kelebihan beban. Selain itu, warna birunya juga sudah memudar. So, alih-alih pergi ke persewaan video (seperti yang biasa kulakukan jika ingin memanjakan diri), usai menggoreng nasi buat makan malam aku mengajak suami (yang kebetulan meliburkan diri lantaran sakit) dan Ais ke pasar. Aku ingin menyegarkan dapur mungilku dengan barang baru.


Maka setelah mencari rak yang tepat dan menawar dengan segala kemahiran kotak penyimpan itu kuboyong pulang. Nongkrong di atas bajaj, dia selamat sampai ke rumah. Usai sholat, berbenahlah aku. Peralatan masak dan makan yang tak seberapa itupun kutata.


Usai mencuci peralatan yang kotor dan memasukkan semuanya ke dalam lemari kaca berangka alumunium itu, tampaklah wajah barunya. Nampak rapi, bersih, dan segar. Meski capek, puas. Rasan-rasan dengan suami aku berkata, “Kenapa nggak dari dulu saja ya, belinya? Kenapa nunggu rak plastiknya bungkuk hendak roboh dulu?”


Suami tak menjawab, hanya tersenyum. Dia tahu, aku yang “minimalis” ini tak begitu suka membeli perabotan makan atau pernak-pernik kerumahtanggaan. Biarlah piring cuma lima, asal buku bertebaran di mana-mana. Apalagi dengan kondisi kami yang masih sufi (suka findah-findah alias belum punya rumah sendiri).


Namun melihat kebaikan dan perbaikan dari hasilku out of my box (keluar dari kebiasaan dan karakter serta kecenderungan yang kupegang), senyum orang serumah mengembang. Ternyata, keluar dari pola keseharian kita tak perlu menunggu saat bete menyerang atau ketika mentok menghadapi persoalan. Dalam kondisi normal bahkan bisa jadi sangat menyenangkan.

Saking amazing-nya menemukan fakta bahwa keluar dari kebiasaan ternyata juga mengasyikkan pikiranku segera berkelana. Mengernyit melipat dahi, mencari apa lagi yang bisa kubongkar pasang dan kuperbaiki esok hari. Apa kamar mandi ganti jadi sasaran ya? Menempatkan vas bunga kecil-kecil di sekitar bathtub misalnya. Atau memindah letak tempat tidur di kamar? Lalu nulisnya kapan? :(


Malaka Sari 8 March 2007 21.50

Yang tengah menikmati peran ratu rumah tangga dan penulis


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.