Apakah
yang kau lakukan jika tengah bete? Ada saran bagus yang selalu kita
dengar, cobalah hal-hal baru, di luar kebiasaan kita selama ini.
Namun bagaimana jika kita mencoba hal-hal baru itu saat tidak bete?
Ternyata hasilnya sama, bahkan bisa jadi lebih mengejutkan.
Tiga
hari terakhir, aku seolah merasa dikejar waktu. Ya, kehormatan
merevisi buku dari seseorang benar-benar memacu adrenalinku. Naskah
setebal kira-kira 230 halaman itu harus kuselesaikan dalam jangka 10
hari jika ingin mendapat nilai A. Meski seolah berlari, namun
kebiasaanku njagong bersama keheningan malam rasanya sangat
membantu dalam hal ini.
Yang
menjadi sedikit masalah kemudian adalah si Mas ini juga meminta
kualitas sama dengan tulisan kisah nyataku yang rencananya hendak
dibukukan bersama karya penulis lainnya. Hal itu tak menjadi masalah
besar seandainya gaya “bicara” yang ada di naskah yang harus
kurevisi itu sesuai dengan gayaku “berbicara”. Belum lagi
referensi seabrek yang tentu perlu waktu mencari dan membacanya.
Namun
okelah, karena ternyata daya tahanku masih bisa diandalkan dan
beberapa bab selesai sesuai dengan skedul yang kubuat sendiri, aku
merasa boleh memberi hadiah sedikit. Ya, aku hendak bersenang-senang
mengendurkan syaraf di kepala. Caranya?
Kuedarkan
pandangan, mataku tertumbuk pada rak piring dari plastik yang sudah
ndoyong kelebihan beban. Selain itu, warna birunya juga sudah
memudar. So, alih-alih pergi ke persewaan video (seperti yang biasa
kulakukan jika ingin memanjakan diri), usai menggoreng nasi buat
makan malam aku mengajak suami (yang kebetulan meliburkan diri
lantaran sakit) dan Ais ke pasar. Aku ingin menyegarkan dapur
mungilku dengan barang baru.
Maka
setelah mencari rak yang tepat dan menawar dengan segala kemahiran
kotak penyimpan itu kuboyong pulang. Nongkrong di atas bajaj, dia
selamat sampai ke rumah. Usai sholat, berbenahlah aku. Peralatan
masak dan makan yang tak seberapa itupun kutata.
Usai
mencuci peralatan yang kotor dan memasukkan semuanya ke dalam lemari
kaca berangka alumunium itu, tampaklah wajah barunya. Nampak rapi,
bersih, dan segar. Meski capek, puas. Rasan-rasan dengan suami aku
berkata, “Kenapa nggak dari dulu saja ya, belinya? Kenapa nunggu
rak plastiknya bungkuk hendak roboh dulu?”
Suami
tak menjawab, hanya tersenyum. Dia tahu, aku yang “minimalis” ini
tak begitu suka membeli perabotan makan atau pernak-pernik
kerumahtanggaan. Biarlah piring cuma lima, asal buku bertebaran di
mana-mana. Apalagi dengan kondisi kami yang masih sufi (suka
findah-findah alias belum punya rumah sendiri).
Namun
melihat kebaikan dan perbaikan dari hasilku out of my box
(keluar dari kebiasaan dan karakter serta kecenderungan yang
kupegang), senyum orang serumah mengembang. Ternyata, keluar dari pola keseharian kita tak perlu menunggu saat bete menyerang atau ketika mentok menghadapi persoalan. Dalam kondisi normal bahkan bisa jadi sangat menyenangkan.
Saking amazing-nya
menemukan fakta bahwa keluar dari kebiasaan ternyata juga
mengasyikkan pikiranku segera berkelana. Mengernyit
melipat dahi, mencari apa lagi yang bisa kubongkar pasang dan
kuperbaiki esok hari. Apa kamar mandi ganti jadi sasaran ya?
Menempatkan vas bunga kecil-kecil di sekitar bathtub misalnya.
Atau memindah letak tempat tidur di kamar? Lalu nulisnya kapan? :(
Malaka
Sari 8 March 2007 21.50
Yang
tengah menikmati peran ratu rumah tangga dan penulis