Blog EntryDi Antara Bumi dan MatahariJan 23, '07 8:16 PM
for everyone
 

 

Pagi ini, ketika membaca pengumuman di sebuah milist, tiba-tiba saja darahku menggelegak. Ada sebentuk rasa iri, kehilangan kepercayaan diri menggayuti. Dia, yang kurasa sejalan bersamaku, tiba-tiba melesat begitu tinggi. Sementara aku, masih terlolong di bumi.


Namun bumi yang sama pula yang kemudian menyadarkanku. Bahwa jadilah air yang selalu mencari tempat lebih rendah namun mampu menyapu segala rintangan. Bukan dengan merusakkan, namun mengalir di celah sempit bebatuan. Bahwa jadilah api yang menghangatkan sekitar, bukan api yang menghanguskan. Bahwa jadilah tanah yang mengecambahkan bibit tanaman, bukan tanah yang melongsor, menimbun bangunan bernama kemanusiaan. Dan bahwa jadilah angin yang meniupkan kehidupan pembebasan, bukan pengekangan kebijaksanaan atas nama nafsu.


Kalah adalah sebuah proses. Seperti halnya menang. Aku kalah karena tak tegap berpijak pada pondasi yang kucanangkan sendiri. Aku tak memiliki daya konsistensi. Aku lebih memilih banjir yang melanda alih-alih mata air yang tak pernah kering. Aku memilih menghanguskan hutan ketimbang bertengger di puncak sumbu lilin di gelap malam. Aku memilih menjadi sawah tadah hujan, yang seketika menjadi tanah beretakan saat titik air enggan datang. Aku memilih menjadi badai daripada angin bersahaja yang tak kentara namun ada.


Terhenyak, aku merindu bumiku yang satu, dengan segala unsur positif yang kumampu.

Terkuak, jalan mendaki pegunungan yang perdu dan alang-alangnya pernah kusibak.

Maka di sinilah aku sekarang, masih belum sampai puncak, namun tak hendak berhenti hanya di bumi. Ingin kuraup seluruh pendar mentari, di puncak gunung tertinggi.


Duren Sawit, 230107 10.30


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.