Blog EntryIngat Mati!Mar 15, '07 9:08 PM
for everyone
Aku baru beranjak dari ‘meja kerjaku’ di kamar yang berupa bantal dengan laptop di atasnya ketika tersadar, adzan maghrib hendak berkumandang. Kuraih sapu yang sedari tadi belum kumanfaatkan. Usai mengusir kotoran yang nampak ke halaman, hendak menutup pintu di remang petang, “somebody’ itu coming tak sendirian. Ada seseorang di boncengan


Aku dan Ais memang memiliki kebiasaan meneriakkan “Somebody coming!” jika salah satu di antara kami mendengar terlebih dahulu deru sepeda motor kedatangan lelaki tertampan di rumah kami (maklum, dua partner-nya perempuan ). Kalau sudah begitu, Ais akan bersegera memulai permainan hide and seek. Berlari ke kamar, dia membenamkan badannya di bawah selimut. Aku pun yang ditanya papanya tak mengaku anak kami di mana.


Mengendap-endap, suami akan ke kamar mencari kakak sayang. Bukannya menemukan yang dirindui, papa justru mendapat ‘guling’ baru. Tawa Ais pun kemudian mengakhiri sesi hide and seek-nya setelah kegelian digelitiki papanya. Namun malam ini, kebiasaan itu tak kami lakukan. Ada seseorang datang bersama ‘somebody’. Somebody else yang sudah dua malam sebelumnya kami nantikan.


Merasa kurang maksimal dengan memori yang ada, suami berinisiatif menambahi memori di laptop kami. Kebetulan, seorang teman ITnya menawarkan diri dengan tenaga dan hardware compatible yang dia punya. Maka, di sinilah dia sekarang.


Usai memasang memori di slotnya setelah berjamaah maghrib, kami meneruskan dengan makan malam. Kok ya kebetulan, aku yang hari-hari terakhir malas dan tak sempat masak, tadi sore menyisihkan waktu membuat sayur lodeh, goreng ikan dan usus ayam, serta oseng cumi kesukaan papa Ais. Lumayan, agar sang tamu lebih merasa hommy dibanding jika beli.


Laptop beres, suami pun menunjukkan ketidakberesan monitor PC di ruang tengah. Maksudnya agar bisa didiagnosa sang ‘dokter’ komputer lalu dicari obatnya. Meski, penyakit si monitor itu seolah melegitimasi suami untuk segera mengganti dengan monitor LCD.


Menanti komputer menyala, sang teman tak mampu menyembunyikan keingintahuannya tatkala matanya tertumbuk pada tulisan yang kupasang di belakang komputer. INGAT MATI! Begitu ketikku dengan print warna-warni.

Mengapa ‘ingat mati’?” tanyanya.

Ya biar ingat mati terus.” jawab suamiku.

Aku sebagai pengetik dan penempelnya merasa harus urun rembug menjelaskan. “Maksudnya sih biar kita nggak lama-lama main game-nya. Semua harus dipertanggungjawabkan, termasuk waktu yang diberikan. Kita akan rugi dong jika di akhirat kelak, waktu yang dimodalkan justru habis buat main game doang.”

Sang tamu manggut-manggut dengan penjelasanku.


Ada dua hal yang kudapatkan dari reaksi dia. Pertama, betapa kadang kematian hanya kita ingat jika ada seseorang meninggal. Entah itu orang terdekat kita, atau kematian masal dalam sebuah musibah, kecelakaan kereta atau pesawat misalnya. Di saat seperti itu, kita cenderung bisa merenung sejenak, mengambil jeda untuk memaknai kehidupan yang diberikan--yang pada akhirnya berujung kematian.


Namun sayangnya, kita sering lena mengingat itu dalam keseharian, di setiap helaan nafas, termasuk ketika tengah berasyik masyuk dengan komputer atau apapun hobi kita.


Pelajaran kedua, betapa kita mungkin lebih banyak, memanfaatkan ruang kosong di dinding rumah kita dengan sesuatu yang artifisial. Lukisan, kalender yang gambarnya mengumbar aurat perempuan, atau bisa jadi kaligrafi. Apakah itu semua salah? Tentu tidak. Namun sayang, jika hiasan itu (termasuk kaligrafi) hanya menjadi pemanis ruangan, penyedap mata, atau ‘pengusir setan’.

Mengapakah tidak kita biasakan menghiasi sekeliling kita dengan sesuatu yang sederhana namun bermakna? Seperti kata-kata pengingat itu misalnya.


Salah satu yang disarankan dalam buku Pelatihan Sholat Istikharah yang sekarang tengah saya revisi (sebagai co-writer) adalah menempelkan kata-kata atau kalimat positif dan ‘bernyala’ di dinding rumah yang mudah tertangkap mata. ‘Ingat mati’ itu, sudah jauh saya tempelkan sebelum merevisi si buku.


Dalam buku best seller Financial Revolution, Tung Desem Waringin menyarankan teknik visualisasi selain incantation untuk mendongkrak mimpi kita menjadi kaya. Visualisasi di sini dijelaskan dia sebagai penempelan kata-kata atau foto tentang tempat yang hendak kita tuju. Secara otomatis, kata-kata dan foto itu akan menggerakkan alam bawah sadar kita.

Kalau untuk tujuan dunia saja kita disarankan menggunakan visualisasi semacam itu, apalagi untuk tujuan yang lebih abadi?


Ingat mati pula, yang menyebabkan penulisan ini tadi sempat terpenggal. Aku harus menunaikan ’kebutuhan’ sholat subuh sebelum maut menjemputku. Namun, ingat hidup yang kemudian memaksaku mengakhirinya. Terang tanah menjelang. Aktivitas pagi dimulai!


Malaka Sari, 16 March 2007 05.55
Indarpati

Ketika serak kokok ayam tetangga masih terperangkap di ruang tamu kami


sinthionk wrote on Mar 15, '07
ini namanya analogi kan mbak?...bagus...
sya2 wrote on Mar 15, '07
hmm makasih mba, udah diingatkan tentang kematian.
Kalo yang kutempel dikamarku adalah tulisan "Hidupkan malammu dengan qiyamul lail, niscaya hari2mu akan tenang.."
blabliblu wrote on Mar 16, '07
makasi mba,, waktu baca ini di milis penulislepas aku langsung kesini..
makasi banyak, aku dapat pencerahan, salam kenal :)
lembarkertas wrote on Mar 18, '07
makasi mba,, waktu baca ini di milis penulislepas aku langsung kesini..
makasi banyak, aku dapat pencerahan, salam kenal :)
Salam kenal juga! Sama-sama. Kita saling berbagi aja.
lembarkertas wrote on Mar 18, '07
sya2 said
hmm makasih mba, udah diingatkan tentang kematian.
Kalo yang kutempel dikamarku adalah tulisan "Hidupkan malammu dengan qiyamul lail, niscaya hari2mu akan tenang.."
Boleh juga dicontek tuh kata-katanya. Thanks balik Sya!
muantap wrote on Mar 22
KABAR GEMBIRA, Ingin kaya atau lebih lebih lebih kaya lagi Seminar GRATIS TIS TIS “Financial Revolution” 4 -6 April 2008 3 hari di Jitec Mangga Dua, seminar ini senilai Rp. 9.987.000 , Gratis juga 5 Buah CD Audio Marketing Revolution Series senilai Rp. 320.000,- Cukup Pesan Buku “Marketing Revolution” By Tung Desem Waringin, buku yang sudah lama ditunggu-tunggu caranya @buku Rp. 175.000,-+ongkos kirim Rp. 20.000 Caranya, Transfer Rp. 195.000 ke rekening BCA Pak Tung di 8830577786 lalu fax bukti transfer ket. Nama, alamat utk kirim tiket+buku, Up. Anton Timur ke 021 5465566 untuk informasi lebih lanjut Telp. 021 5476677 atau 081708928899/ email : ke anton@dahsyat.com semoga bermanfaat Salam Dahsyat!
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.