Aku
baru beranjak dari ‘meja kerjaku’ di kamar yang berupa bantal
dengan laptop di atasnya ketika tersadar, adzan maghrib hendak
berkumandang. Kuraih sapu yang sedari tadi belum kumanfaatkan. Usai
mengusir kotoran yang nampak ke halaman, hendak menutup pintu di
remang petang, “somebody’ itu coming tak sendirian. Ada
seseorang di boncengan
Aku
dan Ais memang memiliki kebiasaan meneriakkan “Somebody coming!”
jika salah satu di antara kami mendengar terlebih dahulu deru sepeda
motor kedatangan lelaki tertampan di rumah kami (maklum, dua
partner-nya perempuan ).
Kalau sudah begitu, Ais akan bersegera memulai permainan hide and
seek. Berlari ke kamar, dia membenamkan badannya di bawah
selimut. Aku pun yang ditanya papanya tak mengaku anak kami di mana.
Mengendap-endap,
suami akan ke kamar mencari kakak sayang. Bukannya menemukan yang
dirindui, papa justru mendapat ‘guling’ baru. Tawa Ais pun
kemudian mengakhiri sesi hide and seek-nya setelah kegelian
digelitiki papanya. Namun malam ini, kebiasaan itu tak kami lakukan.
Ada seseorang datang bersama ‘somebody’. Somebody else
yang sudah dua malam sebelumnya kami nantikan.
Merasa
kurang maksimal dengan memori yang ada, suami berinisiatif menambahi
memori di laptop kami. Kebetulan, seorang teman ITnya menawarkan diri
dengan tenaga dan hardware compatible yang dia punya. Maka, di
sinilah dia sekarang.
Usai
memasang memori di slotnya setelah berjamaah maghrib, kami meneruskan
dengan makan malam. Kok ya kebetulan, aku yang hari-hari terakhir
malas dan tak sempat masak, tadi sore menyisihkan waktu membuat sayur
lodeh, goreng ikan dan usus ayam, serta oseng cumi kesukaan papa Ais.
Lumayan, agar sang tamu lebih merasa hommy dibanding jika
beli.
Laptop
beres, suami pun menunjukkan ketidakberesan monitor PC di ruang
tengah. Maksudnya agar bisa didiagnosa sang ‘dokter’ komputer
lalu dicari obatnya. Meski, penyakit si monitor itu seolah
melegitimasi suami untuk segera mengganti dengan monitor LCD.
Menanti
komputer menyala, sang teman tak mampu menyembunyikan
keingintahuannya tatkala matanya tertumbuk pada tulisan yang kupasang
di belakang komputer. INGAT MATI! Begitu ketikku dengan print
warna-warni.
“Mengapa
‘ingat mati’?” tanyanya.
“Ya
biar ingat mati terus.” jawab suamiku.
Aku
sebagai pengetik dan penempelnya merasa harus urun rembug
menjelaskan. “Maksudnya sih biar kita nggak lama-lama main
game-nya. Semua harus dipertanggungjawabkan, termasuk waktu
yang diberikan. Kita akan rugi dong jika di akhirat kelak, waktu yang
dimodalkan justru habis buat main game doang.”
Sang
tamu manggut-manggut dengan penjelasanku.
Ada
dua hal yang kudapatkan dari reaksi dia. Pertama, betapa kadang
kematian hanya kita ingat jika ada seseorang meninggal. Entah itu
orang terdekat kita, atau kematian masal dalam sebuah musibah,
kecelakaan kereta atau pesawat misalnya. Di saat seperti itu, kita
cenderung bisa merenung sejenak, mengambil jeda untuk memaknai
kehidupan yang diberikan--yang pada akhirnya berujung kematian.
Namun
sayangnya, kita sering lena mengingat itu dalam keseharian, di setiap
helaan nafas, termasuk ketika tengah berasyik masyuk dengan komputer
atau apapun hobi kita.
Pelajaran
kedua, betapa kita mungkin lebih banyak, memanfaatkan ruang kosong di
dinding rumah kita dengan sesuatu yang artifisial. Lukisan, kalender
yang gambarnya mengumbar aurat perempuan, atau bisa jadi kaligrafi.
Apakah itu semua salah? Tentu tidak. Namun sayang, jika hiasan itu
(termasuk kaligrafi) hanya menjadi pemanis ruangan, penyedap mata,
atau ‘pengusir setan’.
Mengapakah
tidak kita biasakan menghiasi sekeliling kita dengan sesuatu yang
sederhana namun bermakna? Seperti kata-kata pengingat itu misalnya.
Salah
satu yang disarankan dalam buku Pelatihan Sholat Istikharah yang
sekarang tengah saya revisi (sebagai co-writer) adalah
menempelkan kata-kata atau kalimat positif dan ‘bernyala’ di
dinding rumah yang mudah tertangkap mata. ‘Ingat mati’ itu, sudah
jauh saya tempelkan sebelum merevisi si buku.
Dalam
buku best seller Financial Revolution, Tung Desem Waringin
menyarankan teknik visualisasi selain incantation untuk
mendongkrak mimpi kita menjadi kaya. Visualisasi di sini dijelaskan
dia sebagai penempelan kata-kata atau foto tentang tempat yang hendak
kita tuju. Secara otomatis, kata-kata dan foto itu akan menggerakkan
alam bawah sadar kita.
Kalau
untuk tujuan dunia saja kita disarankan menggunakan visualisasi
semacam itu, apalagi untuk tujuan yang lebih abadi?
Ingat
mati pula, yang menyebabkan penulisan ini tadi sempat terpenggal.
Aku harus menunaikan ’kebutuhan’ sholat subuh sebelum maut
menjemputku. Namun, ingat hidup yang kemudian memaksaku
mengakhirinya. Terang tanah menjelang. Aktivitas pagi dimulai!
Malaka
Sari, 16 March 2007 05.55
Indarpati
Ketika
serak kokok ayam tetangga masih terperangkap di ruang tamu kami