Rumah
itu menjulang mewah. Terletak di hoek kavling DKI bagian timur
Jakarta, dia nampak menonjol dibanding rumah biasa atau bagus di
sekelilingnya. Berlantai dua, bergaya Mediterania dengan kedua pilar
menjulang serta ornament batu alam di dinding pagar. Bercat warna
pastel, menambah kesan lapang dari tanah dan bangunan yang memang
lebih luas dibanding tetangga kanan kirinya. Garasinya, dihuni dua
mobil yang pagi itu tengah dimandikan.
Seorang
anak perempuan keluar dari dalamnya. Berusia sekitar enam tahun
dengan tubuh kurus tak terurus. Kesan itu semakin tajam dengan
bajunya yang agak kedodoran membungkus tubuh tipisnya. Wajah tirusnya
gelap, segelap kulitnya yang kusam. Sepatu dan tas ala kadar yang
dikenakannya pun semakin menambah kesan tak berpunya dari kusut
seragam TK warna hijaunya.
Berjalan
sendiri menuju sekolahnya yang berbiaya murah meriah—dibanding TK
satu lagi di kompleks itu yang mematok harga tinggi—siapa pun akan
mengira anak perempuan itu adalah anak pembantu di rumah mewah itu.
Pun ketika akhirnya di pindah ke rumah lain yang berbeda blok.
Sementara rumah mewah itu bertempelkan ‘dijual’ di salah satu
dinding pagar tingginya.
Apakah
ada yang salah dengan anak itu dan rumah mewah yang baru saja
ditinggalkannya? Mungkin tidak. Jika saja dia memang anak pembantu di
rumah itu. Kontradiksi seketika terbaca karena ternyata si anak
‘tampak tak terurus itu’ adalah bagian dari istana itu. Tepatnya,
dia adalah pewaris sah rumah mewah jika pemiliknya meninggal. Ya, dia
adalah anak kandung dari si pemilik rumah mewah, sekaligus beberapa
rumah lainnya termasuk yang baru saja ditempatinya di lain blok.
Dia,
Sephia, demikian namanya adalah sedikit anak yang mungkin tak begitu
beruntung menikmati masa kecilnya. Dengan segala harta yang dimiliki,
ternyata orang tua, terutama ibunya masih merasa kurang saja. Usaha
konveksi mereka harus tetap dikembangkan. Rumah mereka yang berderet
harus ditambah jumlahnya, terlepas dari rumah mewah yang ditawarkan
1.5 milyard itu tadi. Sementara sang anak, dibiarkan sendiri, hanya
ditemani pembantu melewati masa kecilnya.
Seketika
aku teringat akan lagu Ebiet yang bercerita hal sama. Seorang anak
yang mencari makna hidup di luar ketika istana yang dibangun kedua
orang tuanya tak menawarkan apa-apa melainkan kehampaan semata.
Ada
beberapa tipe manusia berdasarkan tingkat konsumsi dan kemampuan
finansial yang kudapati.
Tipe
pertama adalah orang yang mampu, dan memanfaatkan kemampuannya itu
untuk sebaik-baik perkembangan fisik dan intelektual anggotanya.
Memberi pangan, sandang, dan papan serta pendidikan dan kebutuhan
tersier lain terbaik bagi sang anak. Bocah-bocah dari keluarga ini
biasanya terlihat gemuk, sehat, menggemaskan dan sedikit ‘nakal’
dengan keaktifannya (berkat stimulasi yang tiada henti).
Tipe
kedua adalah mereka yang sebenrnya kurang mampu alias berkecukupan
saja, namun mendedahkan keserba pas-pasan mereka dengan cara tidak
pada tempatnya. Orang-orang seperti ini, hanya terhenti pada tingkat
‘baju’, bukan isi. Hanya memamerkan kulit, namun terlupa bahwa
isi buahnya lebih utama. Seperti yang pernah kami temui di sebuah
toserba, sebuah keluarga membayar belanja mereka dengan kartu kredit.
Apakah salah tindakan mereka? Mungkin tidak, hanya kurang bijaksana.
Melihat bagaimana tagihan kartu kredit itu akan mencekik leher jika
tidak digunakan secara bijaksana (sekalipun seseorang itu termasuk
jenis yang sangat berharta), juga melihat penampilan fisik
pemakainya. Orang kaya baru, orang benar-benar kaya, dan orang yang
pura-pura kaya, bagaimana pun terlihat dari penampilan dan sikapnya.
Tipe
ketiga adalah mereka yang berkecukupan dan sadar dengan posisinya itu
sehingga bersikap bijaksana sesuai dengan kemampuan. Tak berlebih
dalam menonjolkan kemampuannya, namun juga tidak eman terlalu
pada harta yang dimilikinya. Proporsional.
Tipe
keempat, adalah mereka yang tidak mampu dan dengan senang hati
mengeksploitasi ketidakmampuannya itu untuk mengais iba dari orang
lain. Bukannya memperbaiki nasib dengan cara halal, elegan, mereka
justru menjadikan itu sebagai modal untuk mencari penghasilan yang
membuat orang lain tidak ‘nyaman’. Pengemis sehat tegap yang
mencari sumbangan dari pintu ke pintu yang sebenarnya bisa mencari
pekerjaan ‘terhormat’ lainnya, misal.
Kembali
ke perilaku orang tua Sephia, aku teringat tetangga di Pati yang
berperilaku sama. Ketika televise belum memasyarakat, beliau sudah
memiliki. Perhiasannya pun sekotak tersimpan. Namun sehari-hari,
beliau memilih hidup dengan tidak menikmati semua yang dimiliki.
Meski mempunyai kompor, lebih memilih masak di luar dengan daun dan
pelepah pisang serta ranting kering lainnya. Membeli sayur pun
sesampai di rumah akan dicampur dengan air agar bisa dikonsumsi
berhari-hari. Sampai kemudian beliau meninggal, tanpa harta yang
disimpan selama hidupnya namun tidak dinikmatinya.
Melihat
contoh dua orang ini, aku tak habis pikir, untuk apa sebenarnya
mereka mengumpulkan harta jika toh tak dinikmatinya (secara
proporsional). Belum lagi jka sepotong jiwa bersih anak kecil menjadi
korban, terlantar.
Memandang
mata Sephia, sungguh aku sangat iba. Ada sesuatu yang meranggas di
sana. Dia telah kehilangan fungsi keluarga sebagai pengayom,
pendidik, dan pemenuh kebutuhan. Lalu apa bedanya dia dengan anak
jalanan? Hanya masalah keterpaksaan dan pilihan yang kurang bijaksana
dijatuhkan.
Lalu
di mana posisi kita dalam memanfaatkan materi yang dititipkan-Nya?
Hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya.
Malaka
Sari, 23 March 2007 11.20