Blog EntryIstana SephiaMar 25, '07 10:49 PM
for everyone


Rumah itu menjulang mewah. Terletak di hoek kavling DKI bagian timur Jakarta, dia nampak menonjol dibanding rumah biasa atau bagus di sekelilingnya. Berlantai dua, bergaya Mediterania dengan kedua pilar menjulang serta ornament batu alam di dinding pagar. Bercat warna pastel, menambah kesan lapang dari tanah dan bangunan yang memang lebih luas dibanding tetangga kanan kirinya. Garasinya, dihuni dua mobil yang pagi itu tengah dimandikan.


Seorang anak perempuan keluar dari dalamnya. Berusia sekitar enam tahun dengan tubuh kurus tak terurus. Kesan itu semakin tajam dengan bajunya yang agak kedodoran membungkus tubuh tipisnya. Wajah tirusnya gelap, segelap kulitnya yang kusam. Sepatu dan tas ala kadar yang dikenakannya pun semakin menambah kesan tak berpunya dari kusut seragam TK warna hijaunya.


Berjalan sendiri menuju sekolahnya yang berbiaya murah meriah—dibanding TK satu lagi di kompleks itu yang mematok harga tinggi—siapa pun akan mengira anak perempuan itu adalah anak pembantu di rumah mewah itu. Pun ketika akhirnya di pindah ke rumah lain yang berbeda blok. Sementara rumah mewah itu bertempelkan ‘dijual’ di salah satu dinding pagar tingginya.


Apakah ada yang salah dengan anak itu dan rumah mewah yang baru saja ditinggalkannya? Mungkin tidak. Jika saja dia memang anak pembantu di rumah itu. Kontradiksi seketika terbaca karena ternyata si anak ‘tampak tak terurus itu’ adalah bagian dari istana itu. Tepatnya, dia adalah pewaris sah rumah mewah jika pemiliknya meninggal. Ya, dia adalah anak kandung dari si pemilik rumah mewah, sekaligus beberapa rumah lainnya termasuk yang baru saja ditempatinya di lain blok.


Dia, Sephia, demikian namanya adalah sedikit anak yang mungkin tak begitu beruntung menikmati masa kecilnya. Dengan segala harta yang dimiliki, ternyata orang tua, terutama ibunya masih merasa kurang saja. Usaha konveksi mereka harus tetap dikembangkan. Rumah mereka yang berderet harus ditambah jumlahnya, terlepas dari rumah mewah yang ditawarkan 1.5 milyard itu tadi. Sementara sang anak, dibiarkan sendiri, hanya ditemani pembantu melewati masa kecilnya.


Seketika aku teringat akan lagu Ebiet yang bercerita hal sama. Seorang anak yang mencari makna hidup di luar ketika istana yang dibangun kedua orang tuanya tak menawarkan apa-apa melainkan kehampaan semata.


Ada beberapa tipe manusia berdasarkan tingkat konsumsi dan kemampuan finansial yang kudapati.

Tipe pertama adalah orang yang mampu, dan memanfaatkan kemampuannya itu untuk sebaik-baik perkembangan fisik dan intelektual anggotanya. Memberi pangan, sandang, dan papan serta pendidikan dan kebutuhan tersier lain terbaik bagi sang anak. Bocah-bocah dari keluarga ini biasanya terlihat gemuk, sehat, menggemaskan dan sedikit ‘nakal’ dengan keaktifannya (berkat stimulasi yang tiada henti).


Tipe kedua adalah mereka yang sebenrnya kurang mampu alias berkecukupan saja, namun mendedahkan keserba pas-pasan mereka dengan cara tidak pada tempatnya. Orang-orang seperti ini, hanya terhenti pada tingkat ‘baju’, bukan isi. Hanya memamerkan kulit, namun terlupa bahwa isi buahnya lebih utama. Seperti yang pernah kami temui di sebuah toserba, sebuah keluarga membayar belanja mereka dengan kartu kredit. Apakah salah tindakan mereka? Mungkin tidak, hanya kurang bijaksana. Melihat bagaimana tagihan kartu kredit itu akan mencekik leher jika tidak digunakan secara bijaksana (sekalipun seseorang itu termasuk jenis yang sangat berharta), juga melihat penampilan fisik pemakainya. Orang kaya baru, orang benar-benar kaya, dan orang yang pura-pura kaya, bagaimana pun terlihat dari penampilan dan sikapnya.


Tipe ketiga adalah mereka yang berkecukupan dan sadar dengan posisinya itu sehingga bersikap bijaksana sesuai dengan kemampuan. Tak berlebih dalam menonjolkan kemampuannya, namun juga tidak eman terlalu pada harta yang dimilikinya. Proporsional.


Tipe keempat, adalah mereka yang tidak mampu dan dengan senang hati mengeksploitasi ketidakmampuannya itu untuk mengais iba dari orang lain. Bukannya memperbaiki nasib dengan cara halal, elegan, mereka justru menjadikan itu sebagai modal untuk mencari penghasilan yang membuat orang lain tidak ‘nyaman’. Pengemis sehat tegap yang mencari sumbangan dari pintu ke pintu yang sebenarnya bisa mencari pekerjaan ‘terhormat’ lainnya, misal.


Kembali ke perilaku orang tua Sephia, aku teringat tetangga di Pati yang berperilaku sama. Ketika televise belum memasyarakat, beliau sudah memiliki. Perhiasannya pun sekotak tersimpan. Namun sehari-hari, beliau memilih hidup dengan tidak menikmati semua yang dimiliki. Meski mempunyai kompor, lebih memilih masak di luar dengan daun dan pelepah pisang serta ranting kering lainnya. Membeli sayur pun sesampai di rumah akan dicampur dengan air agar bisa dikonsumsi berhari-hari. Sampai kemudian beliau meninggal, tanpa harta yang disimpan selama hidupnya namun tidak dinikmatinya.


Melihat contoh dua orang ini, aku tak habis pikir, untuk apa sebenarnya mereka mengumpulkan harta jika toh tak dinikmatinya (secara proporsional). Belum lagi jka sepotong jiwa bersih anak kecil menjadi korban, terlantar.

Memandang mata Sephia, sungguh aku sangat iba. Ada sesuatu yang meranggas di sana. Dia telah kehilangan fungsi keluarga sebagai pengayom, pendidik, dan pemenuh kebutuhan. Lalu apa bedanya dia dengan anak jalanan? Hanya masalah keterpaksaan dan pilihan yang kurang bijaksana dijatuhkan.


Lalu di mana posisi kita dalam memanfaatkan materi yang dititipkan-Nya? Hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya.


Malaka Sari, 23 March 2007 11.20


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.