Hidup,
adalah sebuah rangkaian kejadian yang bisa kita rencanakan, namun tak
jarang menyodorkan kejutan.
Nyaris
pukul setengah sepuluh malam, seminggu yang lalu, ketika sms itu
menjagakan suamiku yang tertidur di kursi ruang tamu. Sepotong sms
dari teman sekomunitas. Dia menawarkan kesempatan untuk mencoba
keberuntunganku di penulisan skenario.
Menulis
skenario? Wah, tentu saja mau! Apalagi sebelumnya aku sudah pernah
mencoba-coba sendiri berdasarkan buku yang kubaca. Buku yang ditulis
oleh seorang script writer yang sudah malang melintang di
jagad persinetronan Indonesia.
Maka,
keesokan paginya, dengan excitement yang terasa hingga ke
kulit kepala, aku menuju ke tempat yang punya gawe. Di lantai empat
sebuah gedung yang entah dibeli atau disewa oleh sebuah perusahaan
film itu, aku bertemu dengan seorang guru. Beliau yang orang teater,
nampak sangat ‘hangat’ menyambut dan membagikan ilmunya.
Sekali
dua kali aku mencoba. Merombak pola menulis novel atau essai yang
sudah tertanam di kepala dan menggantinya dengan ‘bahasa-bahasa
gambar’ tidaklah mudah. Bahkan sampai kutulis ini, aku masih belum
menemukan ‘klik’nya.
Namun
terlepas dari masalah teknis yang aku yakin suatu saat pasti
kutemukan jawaban itu, ada sebuah kearifan yang kudapatkan. Hidup
bukan hanya terdiri atas dua warna. Hitam dan putih. Ada abu-abu di
dalamnya. Selama ini, aku termasuk pembenci sinetron. Bukan karena
apa, melainkan jalan ceritanya yang sering tak masuk akal
(menurutku), juga eksploitasi kekerasan dan pornoaksi pornografi yang
kadang kelewatan.
Namun
masuk ke ‘sarang penyamun’ itu, aku menemukan mereka--sebagai bagian dari sesuatu yang semula kubenci--sebagai
laki-laki kepala rumah tangga yang memeras otak demi tercukupinya
kebutuhan keluarga. Aku menemukan bahwa menyampaikan cerita lewat
gambar berjalan di mana harus berebutan pemirsa (baca: penarik iklan)
dengan tak sedikit stasiun televise lainnya adalah tidak mudah.
Bukannya
melunak dari prinsipku semula, hanya saja, selalu ada nilai-nilai
kemanusiaan yang bagaimana pun harus mendapat pembenaran dalam sebuah
kesalahan. Ada supply and demand. Ada permintaan dan pasar.
Ada yang baik di antara yang buruk. Ada yang tetap berjuang
menegakkan idealismenya meski yang lain berjalan dengan nilai-nilai
permisifnya.
Setiap
detik kita adalah pelajaran kehidupan. Aku belajar menulis skenario,
ketika pada saat yang sama aku belajar untuk tak meng-gebyah uyah
(menyamaratakan, menggeneralisasi).
Malaka
Sari, 20/04/07 22.50