Blog Entry‘Perawan’ di Sarang Script WriterApr 20, '07 9:46 PM
for everyone


Hidup, adalah sebuah rangkaian kejadian yang bisa kita rencanakan, namun tak jarang menyodorkan kejutan.


Nyaris pukul setengah sepuluh malam, seminggu yang lalu, ketika sms itu menjagakan suamiku yang tertidur di kursi ruang tamu. Sepotong sms dari teman sekomunitas. Dia menawarkan kesempatan untuk mencoba keberuntunganku di penulisan skenario.


Menulis skenario? Wah, tentu saja mau! Apalagi sebelumnya aku sudah pernah mencoba-coba sendiri berdasarkan buku yang kubaca. Buku yang ditulis oleh seorang script writer yang sudah malang melintang di jagad persinetronan Indonesia.


Maka, keesokan paginya, dengan excitement yang terasa hingga ke kulit kepala, aku menuju ke tempat yang punya gawe. Di lantai empat sebuah gedung yang entah dibeli atau disewa oleh sebuah perusahaan film itu, aku bertemu dengan seorang guru. Beliau yang orang teater, nampak sangat ‘hangat’ menyambut dan membagikan ilmunya.


Sekali dua kali aku mencoba. Merombak pola menulis novel atau essai yang sudah tertanam di kepala dan menggantinya dengan ‘bahasa-bahasa gambar’ tidaklah mudah. Bahkan sampai kutulis ini, aku masih belum menemukan ‘klik’nya.


Namun terlepas dari masalah teknis yang aku yakin suatu saat pasti kutemukan jawaban itu, ada sebuah kearifan yang kudapatkan. Hidup bukan hanya terdiri atas dua warna. Hitam dan putih. Ada abu-abu di dalamnya. Selama ini, aku termasuk pembenci sinetron. Bukan karena apa, melainkan jalan ceritanya yang sering tak masuk akal (menurutku), juga eksploitasi kekerasan dan pornoaksi pornografi yang kadang kelewatan.


Namun masuk ke ‘sarang penyamun’ itu, aku menemukan mereka--sebagai bagian dari sesuatu yang semula kubenci--sebagai laki-laki kepala rumah tangga yang memeras otak demi tercukupinya kebutuhan keluarga. Aku menemukan bahwa menyampaikan cerita lewat gambar berjalan di mana harus berebutan pemirsa (baca: penarik iklan) dengan tak sedikit stasiun televise lainnya adalah tidak mudah.


Bukannya melunak dari prinsipku semula, hanya saja, selalu ada nilai-nilai kemanusiaan yang bagaimana pun harus mendapat pembenaran dalam sebuah kesalahan. Ada supply and demand. Ada permintaan dan pasar. Ada yang baik di antara yang buruk. Ada yang tetap berjuang menegakkan idealismenya meski yang lain berjalan dengan nilai-nilai permisifnya.


Setiap detik kita adalah pelajaran kehidupan. Aku belajar menulis skenario, ketika pada saat yang sama aku belajar untuk tak meng-gebyah uyah (menyamaratakan, menggeneralisasi).


Malaka Sari, 20/04/07 22.50





anangmaesha wrote on Dec 8, '07
Salam kenal, mbak.
lembarkertas wrote on Dec 9, '07
Salam kenal, mbak.
Salam kenal juga Mas Anang.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.