Tepat pukul 07.30, sesuai waktu yang dijanjikan, langkahku menapak areal masjid Yarsi di bilangan Cempaka Putih Jakarta Utara. Sudah ada beberapa orang menanti di sana, meski anggota Pramuda yang sebentar lagi dilantik hanya beberapa gelintir saja. Setelah menunggu hampir satu jam, kami pun memutuskan untuk berangkat segera ke tempat tujan, TMII. Maka mini bus yang disopiri om Tarni pun melaju membelah Jakarta yang tak terlalu padat pagi menjelang siang itu.
Sesampainya di lokasi, sempat memutar sekali karena terlewat, akhirnya kami jumpai juga anjungan Riau yang telah menanti kedatangan kami. Ada sekelompok mahasiswa asli daerah yang juga tengah mengadakan kegiatan di sana. Setelah beberapa jenak menunggu, sang ketua dan mantan ketua FLP DKI, mas Billy dan mbak Dala pun muncul dengan senyum lebarnya.
Meski sempat diwarnai acara pindah tempat, acara dimulai dengan lancar. Pertama, sambutan dari sang ketua, mas Billy Antoro, dilanjutkan sambutan dari ketua yang punya gawe, Wahyudin. Mbak Dala, sang mantan ketua bertindak sebagai MC.
Setelah pindah ke tempat yang lebih lapang, acara kembali dilanjutkan dengan perkenalan. Dimulai dari anggota Pramuda mbak Airani, mbak Asti, si imut Wardah, saya, Mbak Era, Tarni, Echa, Meiliana, mbak Asri, Elshi, Anisa, Fathi, Obi, Dala, Billy, Wahyudin, mas Taufan, dan mas Joko. Achi TM yang baru meluncurkan novel terbarunya, Himitsu, ikut ambil bagian kemudian.
Menjelang waktu dhuhur, acara perkenalan selesai. Namun karena nanggung kami memutuskan makan siang terlebih dulu. Menikmati katering Tarni yang lumayan enak dengan lauk telur dan sayur buncisnya, meski kurang sempurna tanpa sambal serta krupuk besar yang ketinggalan. Uriati yang sempat ketinggalan minibus hanya sepuluh menit setelah kami berangkat di Yarsi, sampai di tempat juga. Masih setengah terengah, dia disodori makan siang oleh mbak Aira.
Usai sholat, acara dilanjutkan dengan pembacaan karya. Kejutan manis yang tak saya sangka tiba. Mbak Tary yang karya-karyanya banyak saya temukan di media, bergabung juga. Si mbak yang ternyata asli Trenggalek ini saya kagumi dengan banyaknya juara lomba penulisan yang disabetnya. Dengan gaya misteri di karya-karyanya, si Mbak ini mampu menunjukkan eksistensinya dengan tampil beda.
Setelah pembacaan karya, diadakan sesi tanya jawab dengan mbak Tary dan mas Taufan sebagai narasumber. Kedua senior itu berbagi banyak hal, tentang penerbitan juga proses kreatif seorang penulis.
Mendung semakin memayungi bumi di luar. Sesi tanya jawab kelar, kami sempat foto-foto bersama sebelum menunaikan sholat ashar. Kali ini, aku memutuskan sholat di rumah tetangga, anjungan Padang. “Serasa pulang kampung,” kata Uriati yang memang asli sana. Di bawah ancaman rintik hujan, dia sempat menerangkan makna-makna bangunan rumah serta budayanya.
Dalam gelap yang semakin menyelimuti serta tetes hujan yang deras mendera di luar acara inaugurasi pun mencapai puncaknya. Mas Billy menyerahkan sertifikat kepada Obi sebagai perwakilan anggota Pramuda pria. Sedang Meiliana menyerahkan sertifikat kepada saya sebagai perwakilan Pramuda putri. Maka resmilah kami, anggota Pramuda naik jenjang menjadi anggota Muda.
Mbak Dala menyerahkan buku sebagai ‘penghargaan khusus’ kepada Wardah. Anggota termuda (baru kelas 1 SMP) yang tak pernah patah arang meski jauh-jauh datang dari Ciledug diantar mama dan papanya. Mama yang smart, yang dijadikan inspirasinya menulis untuk tugas akhir. Tulisan seorang anak SMP yang ‘memaksa’ kami terharu serta tertawa dengan segala keluguannya.
Masih di bawah gerimis, kami berfoto-foto sebelum pulang. Jam digital di ponselku menunjukkan pukul 17.28 ketika minibus kami siap keluar dari areal Taman Mini. Sebuah tempat yang merefleksikan keberagaman. Ketakseragaman sama yang kujumpai di FLP DKI. Ada ABG, ibu rumah tangga, jurnalis, aktivis ICMI, dan lainnya. Keberagaman yang bukannya menyurutkan langkah kami, justru menjadi kekuatan untuk terus berjuang demi perbaikan.
Seperti lagu ciptaan Wahyudin yang kami senandungkan sebelum sesi tanya jawab siang tadi. Lagu kenang-kenangan sebelum dia kembali dan berkarya di tanah asalnya, Kalimatan Tengah. Selamat jalan, Wahyudin, selamat jalan sahabat semua. Selamat pulang ke ‘sarang’ kita masing-masing, untuk kembali bertemu minggu depan. Terimakasih atas ilmu dan persaudaraan manis yang kalian bagikan.
Malaka Sari, 23/04/07 09.52
Anggota Muda FLP DKI yang baru diinaugurasi.