Blog EntryGumam Menjemukan TerbungkamJan 25, '07 9:00 PM
for everyone

Apa yang akan kau lakukan jika hidupmu terasa begitu menjemukan?

Pertanyaan itu tengah menderaku. Bukan sekedar menjemukan, aku bahkan merasa seolah pincang, tertatih mengeja detik demi detik. Parahnya, detik itu bukanlah detik yang tanpa aktivitas. Bukan. Detik itu sarat dengan banyak hal yang hendak kulakukan. Hanya tak tahu kenapa, tak mampu kumaknai hadirnya.


Menyerah dalam kebuntuan pikiran, kubuka winamp, ku-play Terminal Tirtonadi Didi Kempot, lalu kepingan-kepingan ini kulontarkan. Berharap hal-hal menjemukan di dalam terlesat keluar jua, bersama kata-kata.


Kemarin seorang sahabat dari Surabaya menelpon, menanyakan kabarku yang tak pernah posting ke milist khusus kami, juga tak bisa dibukanya blogku lagi. Dengan uhuk-uhukku yang disambut ketawa renyahnya, kukatakan kalau blog-blogku yang lama sudah kudelete permanen, sementara yang baru masih pingsan.


Tentang uhuk-uhuk tadi, itu juga salah satu sebab ke-bete-anku--maaf, jangan ditiru, ini sama sekali tidak termasuk bahasa baku. Akhir Desember, sampai sekarang belum pergi juga. Namun biar saja, toh aku pernah mengalaminya lebih lama. Batuk selama tiga bulan bahkan. Capek diobati apa saja tak mempan, kubiarkan sampai dia sendiri yang bosan menggangguku.


Ah, jadi ingat sms dari seorang teman, guru bahkan, saat menyambut tahun baru Masehi kemarin. Mungkin beberapa teman juga menerima sms sama yang isinya:

One hour later we will leave our past time and facing to the new hope for good health n luck! May GOD bless us on New Year 07 !!

Health-nya seketika membuatku meringis waktu itu. Lha wong badan tengah adem panas gak karuan pas menerimanya. Ya, harapan dan doa yang tepat di saat tepat pula.


Masih tentang kesehatan, kok ya, disaat aku tengah berdamai dengan batuk, kaki kiriku menyusul ngambek. Terkilir gara-gara jatuh di pasar tadi pagi. Menjelang petang, sempat dipijit sambil dibalsemi si Honey. Uh, nikmat sekali. Apalagi dia berjanji, akan memberi servis lebih malam nanti.


Usai sholat maghrib, sms dari seorang Mbak di Pati datang. Mbak ini usianya sekitar enam tahun di atasku, namun penampilannya masih seperti dua puluhan. Maklum, pemilik salon yang pastinya menjadikan penampilan sebagai sebuah prioritas baginya. Saat ‘menikmati’ membersihkan komedo bandel di wajahku, si Mbak yang perfeksionis ini biasanya bercerita tentang perjalanan hidupnya. Kisah pahit anak sulung dari keluarga tak berpunya yang telah ditinggal ayah kandungnya bahkan saat masih dalam rahim.


Malam Dhek. Gmana kabarnya…Tiba2 drmu terlintas. Drmu wanita tangguh, cuek,cool,tp serius. Ak saat ini bingung skl, seakan2 tdk py ms dpn.


Aku tercengang, ternganga, melongo tak tahu harus membalas sesingkat apa. Kata-kata terakhirnya itu seketika melesatkan banyak kata dan rasa. Aku iba pada nasibnya yang belum bertemu jodoh juga di hampir kepala empat usianya. Aku nyaris tak mampu berkata-kata teringat saat dia menceritakan serabut-serabut rumit kisah hidupnya, yang pernah dimuat di majalah Kartini rubrik Oh Mama Oh Papa.


Menghela nafas, kubalas sms itu semampuku. Berharap dan berdoa dia tetap tabah menjalaninya.

Tiba-tiba saja, hidupku yang terasa menjemukan berbalik penuh warna. Mengapakah aku menanti kerumitan datang jikalau kesederhanaan itu menyimpan beribu makna? Kesyukuran salah satunya.


Bidukku bisa dikatakan berlayar tenang membelah lautan dengan riak kecilnya. Angin sepoi saja, dan jikalau menatap ke bawah, dasar laut dengan segala pesona terumbu karang beserta penghuninya beraneka ragam menyuguhkan keindahan. Sementara di bagian samudra yang lain, seorang perempuan menggapai-gapai, mencoba mempertahankan biduknya sendirian di tengah hempasan badai gelombang. Pun petir dan geledek yang bersahutan menyambar-nyambar.


Ketika jenuh dengan segala rutinitas, dan alur yang datar-datar saja, kita mungkin akan mencoba mengingat perjuangan mereka yang lebih tidak beruntung dibanding kita. Namun ingat secara sadar dengan kenyataan yang begitu saja disodorkan tidaklah sama efeknya. Kesadaran bisa kita gali, yang kadang justru malas untuk kita lakukan. Sedangkan kenyataan yang disodorkan begitu saja lebih terasa menohok di dada.


Sms Mbak itu, adalah pengingat dari-Nya. Kenyataan akan hidup orang lain yang mungkin lebih sulit dari yang pernah kualami. Mengapakah aku justru ‘menantang-Nya’ dengan menilai hidupku datar saja dan menjemukan adanya?


Mengabaikan sakit di kaki kiri dan gatal di tenggorokan, aku mencoba menuruti saran Reza Syarif si Super Trainer di radio Ramako yang biasa aku dengarkan.

Jika hendak mengubah pikiran kita, yang pertama harus diubah adalah sikap kita.” begitulah kira-kira katanya. Maksudnya, tak ada ekspresi orang senang yang berjalan pelan, kepala menunduk, dan mata sayu. Atau sebaliknya, tak ada orang susah yang matanya berbinar bercahaya, langkah tegap cepat, dan senyum tersimpul. Jiwa dan raga berjalan seirama.


Jadi, apa yang akan kau lakukan jika hidupmu terasa begitu menjemukan?

Kududuk tegap, tersenyum, mengingat segala nikmat yang begitu lezat kukecap. Kepingan yang tadi kulontarkan telah terbentuk sempurna. Bukan sekedar gumam menjemukan. Gumam itu terbungkam, berubah menjadi kata-kata penuh cahaya (setidaknya bagiku saat ini).


Duren Sawit, 250107 20.20


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.