Ada sebuah kata bijak yang mengatakan bahwa segala sesuatu dalam hidup ini pasti berubah. Kalaupun ada yang tak berubah, itu adalah perubahan itu sendiri. Dia akan selalu terjadi, sepanjang sisa usia kita. Bahkan raga yang mungkin semula kita agungkan itu pun akan berubah sifat dan bentuknya, menjadi seonggok bangkai saja yang penuh belatung dan bermacam binatang lainnya sebelum kemudian terurai kembali ke asalnya, tanah.
Lalu, bagaimana kah transformasi itu kita sikapi ketika nafas masih mampu kita hela?
Membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia yang masih gres di genggaman, saya mendapatkan arti transformasi sebagai perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi, dsb). Mari sekarang kita coba terapkan dalam kehidupan, niscaya, mau tak mau akan tercipta anggukan universal (meminjam istilah Ary Ginanjar dalam bukunya best sellernya ESQ).
Awalnya, kita lahir telanjang, tak kenal malu bahkan memamerkan tangisan di sekitar orang tercinta kita yang justru tertawa-tawa bahagia. Segala hal di tubuh kita masih lembut terasa, bahkan sambungan antar tulang kepala belum tertutup sempurna. Beberapa hari kemudian, kita yang semula nampak ringkih akan terlihat menggemaskan. Apalagi jika berkesempatan menikmati ASI eksklusif secara sempurna.
Kanak-kanak, segala fungsi raga kita semakin berkembang, juga jiwa kita. Lewat masa kanak-kanak, fase remaja mengambil tempatnya, dengan dorongan hormon-hormon pengatur fungsi seksual yang kadang meledak tak terhingga. Apalagi jika tanpa disertai backing agama, atau paling tidak kearifan universal sebagai peredamnya.
Dewasa, semakin kompleks saja, Ya perubahan bentuk raga, sifat, maupun fungsi kita. Laki-laki yang semasa remaja tak kumisan dan berjenggot, bisa saja akan kerepotan mencukur kedua jenis rambut itu di masa dewasa. Pun masa yang menurut salah satu iklan (yang di mata saya kurang mendidik itu) digambarkan sebagai waktunya santai dan hura-hura, pada saat dewasa akan penuh dengan problematika. Bekerja, berkeluarga, dan bertanggung jawab tak lagi hanya sebagai pribadi.
Lalu tua--kalau masih sempat—ketidakberdayaan itu akan kembali menyapa, serupa awal kita mengecap hidup di dunia.
Itu semua, adalah gambaran secara global. Secara parsial, saya baru-baru ini belajar memaknainya.
Setiap diri, seyogyanya mengenal siapa dirinya sendiri. Bukan hanya nama, tempat tanggal lahir, ataupun data yang biasa tercantum di ijasah dan KTP kita, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Kecenderungan, kelemahan, kekuatan, kekurangan, kelebihan, fungsi keberadaan, dll. Siapa saya, adalah sesuatu yang akan menjadi batu pijakan dari langkah apapun yang kita ambil ke depan.
By the way, kenapa saya jadi nyinyir meruntut perubahan-perubahan di atas yang kita sadari sejelas gajah di pelupuk mata?
Begini, transformasi diri memang jamak kita sadari, terutama dalam skala global seperti perubahan di atas. Hanya sayang, dalam skala parsial, kadang kita menganak tirikan. Skala parsial yang saya maksud di sini adalah kecenderungan-kecenderungan yang lebih sering kita menangkan dibanding transformasi fungsi kita. Kecenderungan itu sendiri sebanding dengan kearifan kita dalam meletakkan skala prioritas.
Kita kadang tidak mampu arif meletakkan skala prioritas manakala kecenderungan kita pada hal yang lain lebih menyita perhatian daripada hal yang mestinya prioritasnya lebih utama. Misal, menonton tivi—yang banyak berisi tayangan junk--secara kecenderungan umum lebih menarik daripada membaca. Padahal jika dilihat skala prioritas, membaca mestinya mendapat tempat lebih utama.
Baru-baru ini, mendapati banjir dimana-mana, kami memutuskan silaturahmi ke saudara ipar yang rumahnya hanya selemparan batu dari pemukiman yang terendam di daerah Penggilingan Pondok Kopi Jakarta Timur. Tempat tinggal sepupu tersebut memang tidak basah lantaran kebanjiran, bahkan mengalami kekeringan lantaran listrik mati. Gardu yang terendam menyebabkan supply listrik ke rumah-rumah terganggu. Tanpa adanya listrik tersebut, otomatis pompa air pun tak bisa dioperasikan.
Memasuki rumah petak kontrakannya, mata saya tertumbuk pada sebuah motor sport biru.
“Wah, motormu baru ya?” tanya saya menggoda.
“Udah lama kok. Nggantiin punya teman.” jawab suami adik ipar saya itu.
“Berapa?”
“Dua puluh sekian.” jawabnya.
“Wah, duitmu banyak dong. Kenapa nggak beli rumah aja?” tanyaku lagi. Istrinya segera mengerling penuh arti ke arahku dan suaminya.
“Tuh, aku bilang juga apa.” kata si istri membenarkan pertanyaan yang merupakan pernyataan sikapku.
“Itu juga masih dipinjami teman uangnya.” kata si suami lagi, mengabaikan omelan si istri.
Nah, lho! Aku jadi tambah bingung dengan sikap dia. Memang sih, motor sport seharga dua puluhan itu berhasil mengesankan jantan si penunggang. Namun bukankah kejantanan berarti juga kebijaksanaan meletakkan suatu hal?
Bagaimana bisa dia tega mengedepankan kepentingan, kecenderungannya untuk mengendarai motor wah—yang menurutku tak penting-penting amat—sementara keluarganya masih ditempatkan di rumah petak kontrakan?
“Buat pekerja sepertiku, nggak gampang kredit rumah.” alasannya kemudian ketika kembali kucecar keputusannya. Aku memang biasa bicara blak-blakan kepada dia.
Dengan alasan seperti itu, bukannya memahami, aku malah semakin tak mengerti. Kalau dari awal tak mudah mendapat KPR bank, mengapa lalu menambahi dengan beban hutang untuk kebutuhan tersier yang tak berwawasan ke depan? Kendaraaan, adalah sebuah asset yang semakin lama semakin jatuh nilainya. Berbanding terbalik dengan rumah yang justru akan semakin menguntungkan.
Dalam perjalanan pulang, aku rasan-rasan sama suami, yang meskipun sama-sama lelaki ternyata pandangannya akan kebutuhan dan skala prioritasnya sama denganku. Pembicaraan kami jadi merembet ke awal menikah.
Dulu, begitu masa sepasar usai, kami memutuskan tinggal di kos-kosan. Di tempat itu, selain kami, tinggal juga beberapa bujang dan sepasang suami istri dengan anak perempuan umur tiga tahunnya.
Si mbak, dalam sebuah obrolan sempat curhat kepadaku. Suaminya yang anak orang berada juragan kebun kelapa di tanah Deli sana memiliki hobi naik kendaraan jip dan sering off road keluar daerah. Sebuah petualangan yang menantang memang, sekaligus hobi mahal. Biaya perawatan dan kebutuhan lain-lain mobil sebulan akunya seharga kontrakan rumah setahun.
Si mbak sebenarnya menginginkan rumah sendiri, meski kontrak, asal lingkungannya cukup kondusif untuk si kecil. Mendengar keresahannya, aku sepenuhnya membenarkan. Gadis kecil tiga tahun itu memang nampak ‘dewasa’ dibanding usianya. Pergaulan dengan mbak-mbak bujang serumah yang membentuknya sedemikian.
Lalu apakah lelaki, para suami, tak boleh mempunyai hobi dan menekuninya? Tentu saja boleh. Masalahnya, skala prioritas itu tadi. Juga transformasi diri yang saya sebut di atas. Dalam beberapa sisi diri mereka, kedua contoh di atas belum sepenuhnya bertransformasi. Mereka masih menganggap dirinya bujang sehingga berhak memberi alokasi lebih dari yang semestinya pada kecenderungannya sendiri.
Ah, jadi ingat teguran suami ketika saya minta ijin ‘kelayapan’ untuk suatu keperluan. “Ingat, kamu bukan lagi yang seperti dulu. Kamu sudah menjadi ibu sekarang. Fungsimu sudah banyak berbeda.”
Beringsut kembali ke kamar setelah ‘proposal’ ditolak, saya merasa perlu berkaca lagi, lagi, dan lagi. Sudah kah transformasi diri tiada henti itu sepenuhnya saya, kita, jalani dengan bijaksana, mempertimbangkan segala aspeknya?
Malaka Sari, 14 Feb ’07 20.10
Yang tengah berbahagia dalam dunia kecilnya