Malam ini aku membuka email dan menemukan jawaban penolakan di inboxnya. Ya, naskahku untuk (baru) kedua kali ditolak penerbit. Naskah yang pertama adalah nonfiksi, sedang yang ini adalah fiksi, novel remaja.
Biasanya aku hanya mengecek email di pagi hari ketika Ais sekolah. Namun terdorong rasa penasaran oleh miscalled tiga kali di ponselku yang berasal dari kota si penerbit, aku memutuskan untuk mengecek email saja. Benarlah, jawaban itu kudapatkan, meski tentang siapa yang menelpon saat aku terpulas tidur itu belum ada titik terang.
Si aa yang membalas emailku itu mereview bahwa naskahku belum membawa sesuatu yang berbeda dibanding novel remaja Islami lainnya. Kuakui, meski ‘aksesorisnya’ berbeda dengan mengangkat ‘local content’ atau budaya lokal lebih kental, karakter tokoh utamaku nyaris sama dengan novel lainnya.
Bukan bermaksud latah sebenarnya. Kebetulan saja, tokoh itu kuadaptasi dari sepenggal kehidupanku sendiri. Bukankah salah satu nasehat yang paling sering didengungkan dalam pelatihan kepenulisan adalah menulis tentang hal yang dekat dengan diri kita? Hal ini juga menjadi salah satu point dalam Menulis Dengan Emosi karangan Carmel Bird. Parahnya pada kasusku, justru ‘beralur’ nyaris sama dengan tokoh-tokoh di cerita Islami kebanyakan: tomboy, sadar, berjilbab, bla bla bla…
Lalu apakah aku kecewa? Jelas saja. Skedulku untuk memiliki buku sendiri tahun ini bisa jadi tertunda lagi.
Bagaimanapun harus ada pembelajaran yang kudapatkan. Setidaknya tentang belajar lebih professional jika ingin menjadikan penulisan sebagai mata pencaharian. Selama ini, menulis memang masih menjadi hobi saja. Kalau laku ditawarkan syukur, kalau tidak ya tak apa. Meski itu tak berarti aku tak berbuat yang terbaik saat proses penulisannya. Hanya, istilah Jawanya tak ngoyo saja dalam menjual.
Yang kudapat dari kejadian ini adalah bahwa aku harus belajar menurunkan standar juga. John Grisham si mantan pengacara yang penulis terkenal itu kabarnya dulu naskahnya hanya laku di penerbit kecil. Pun si Potter yang berhasil menyihir dunia, tak dianggap menarik oleh penerbit-penerbit besar. Sampai kemudian justru mereka yang menyesal telah menolak imajinasi liar sang kreator, JK Rowling.
Melihat deret buku yang sudah dihasilkan seorang sahabat, dalam hati aku nyinyir mendapati tak ada penerbit besar yang berada di belakang bukunya itu.
“Alah, ditawarkan ke penerbit gak terkenal macam gini, tentu saja diterima. Tapi paling berapa sih lakunya? Cetak pertama habis saja sudah untung. Bla bla bla…”
Duh, aku tak mengaca rupanya. Bahwa bagaimana pun buah pikiran si sahabat sudah dicerna banyak orang, tidak teronggok begitu saja di folder komputer seperti milikku.
Yah, mungkin aku harus menurunkan standar dulu, dan lebih cermat membaca pasar. Agar tak ada kembali penolakan. Kalaupun terulang, ya sesap saja madunya. Meski seandainya boleh memilih, tak ingin madu jika itu adalah hasil penolakan.
Malaka Sari, 15 Feb ’07 00.18
Yang tengah menyembuhkan diri dari penolakan untuk kedua kali.