Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryDec 9, '07 9:32 PM
for everyone

 

Salah satu tayangan sehat yang belum lama ini coba kuresapi adalah Nanny 911 di MetroTV tiap Sabtu jam 16.05. Tayangan jenis reality show itu mengambil tema pendidikan/pengasuhan anak. Cerita diawali dengan sebuah keluarga yang sudah hopeless dengan tingkah nakal anak-anaknya—yang sepertinya dibatasi belum mencapai usia remaja. Mencoba mencari jalan keluar, mereka meminta bantuan kepada seorang Nanny, yang sebelumnya sudah menyaksikan rekaman kenakalan anak-anak tersebut.

Sabtu minggu lalu (1/12) diceritakan si Nanny datang ke sebuah keluarga dengan 4 orang anak yang masih-masing berusia 2,3,6, dan 7 tahun. Si Ibu, Stevie, sendirian mengasuh semuanya, plus mengurus rumah dengan segala tetek bengeknya. John, sang suami yang berprofesi sebagai videografer freelancer nyaris tak pernah membantu pekerjaan istrinya meski dia sedang berada di rumah. Sekali dia turun tangan, ancamanlah yang dilontarkan kepada anak-anaknya agar mereka menurut kata-katanya.

Di tengah acara, aku sempat bertanya-tanya, apakah si Nanny akan mampu membantu? Karena masalah sebenarnya tak hanya kenakalan anak-anak itu, melainkan hubungan Stevie dan John itu sendiri yang kurang harmonis. Ketidakharmonisan itu mengimbas pada pola pendidikan anak-anaknya. Mereka menerima dua pesan yang berbeda dari kedua orang tuanya.

Sebagai seorang ibu, wanita, aku merasa geregetan sekali ketika si suami enggan meringankan beban istrinya. Namun, keegoisannya itu mulai mencair tatkala suatu hari dia dipindah posisi. Seharian, dia yang harus meng-handle semua pekerjaan sehari-hari istrinya. Sementara Stevie yang nyaris tak punya waktu buat dirinya sendiri dipersilakan memanjakan diri ke spa.

Pada hari itulah si John menjadi sadar, bahwa aktivitas yang dijalani istrinya selama ini tidaklah ringan. Apalagi dengan anak-anak yang trouble maker suka ‘menghancurkan’ rumah, senang menjerit dan memukul jika keinginannya tak dipenuhi, dsb. Oprah Winfrey, seorang humanis yang memutuskan tak berumah tangga itu dalam sebuah tayangannya pernah mengatakan bahwa pekerjaan tersulit adalah menjadi ibu rumah tangga.

Namun, kesalahan tidak sepenuhnya berada di pihak John. Stevie pun dalam mendidik anaknya tidak melaksanakan reward and punishment. Alih-alih berbicara dengan menatap mata anaknya untuk menunjukkan keseriusannya, dia pilih berteriak menegur dari dapur saat anaknya bertengkar di halaman, atau memberi tahu sepintas lalu.

Setelah hubungan John dan Stevie mencapai titik harmonisasi lagi, anak-anak pun relatif gampang dikembalikan ke ‘jalan yang benar’.

Pesan pertama yang aku tangkap dari tayangan ini adalah, kita tak mungkin akan mampu meraih respek, simpati dari anak-anak kita jika pasangan dan kita sendiri tak saling menghargai, menghormati, mencintai.

Sedikit meliarkan imajinasi, aku mencoba menerka, bagaimana isi dada anak-anak pasangan penyanyi yang telah berbulan-bulan ini berseteru bahkan sampai pisah rumah. Mampukah mereka tetap menghargai kedua orang tuanya ketika orang-orang dewasa yang menjadi contoh mereka saja saling membuka aib pasangannya di media? Aku yakin, kepahitan itu akan membekas hingga mereka dewasa. Meski sekarang kedua orang tuanya berkata bahwa mereka fine-fine saja.

Pesan yang kedua adalah, seyogyanya, dalam pendidikan dan pengasuhan anak tidak berlaku standart ganda. Ibu dan bapak sebagai satu kesatuan musti bersinergi, memiliki ‘blue print’ pengasuhan anak-anaknya, hendak dibawa kemana. Kalaupun di tengah jalan terjadi gesekan, sebaiknya dikomunikasikan di belakang. Tidak di depan mereka.

Pesan ketiga adalah pentingnya konsistensi. Si ibu, dalam kasus di atas tidak konsisten dengan ucapannya sendiri. Dia menyuruh si anak melakukan ini itu, namun saat dilanggar dia tak memberikan hukuman apa-apa. Hukuman dalam hal ini tentu jangan dibayangkan sesuatu yang menyeramkan. Tidak. Hanya semacam penegasan saja, bahwa ada konsistensi antara ucapan dan tindakan.

Tentang akibat dari ketidakkonsistenan ini, aku pernah menemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Si ibu, senantiasa mengomel menyuruh anaknya ini itu. Namun ketika si anak melakukan pelanggaran, tak ada hukuman atau akibat yang harus ditanggungnya. Si ibu juga hampir tak pernah memberi apresiasi positif ketika si anak melakukan sekecil apapun kebaikan.

Semua yang dilakukan si ibu, termasuk si bapak, adalah atas nama cinta. Namun cinta yang salah pula yang menjerumuskan anaknya dalam pembenaran-pembenaran. Pernah kudapati, saat si anak pulang membawa hasil ulangan yang sangat parah, si ibu langsung saja menyalahkan gurunya yang memberi soal sesulit itu. Tanpa pengetahuan tentang kurikulum, tanpa membandingkan dengan teman sekelas yang mampu mengerjakannya. Parahnya, beliau melakukannya di depan si anak. Hal ini mengajarkan anak untuk mencari kambing hitam, bukannya introspeksi diri lebih dulu.

Kini, bertahun-tahun kemudian, si ibu dan bapak menuai hasil salah asuhan mereka. Kenakalan si anak mengalami kemajuan. Sayangnya, mereka membutakan mata, belum mampu menatap cermin di masa lalu, dan bertanya mengapa benih yang mereka tabur memberi hasil panen sedemikian.

Ya, mendidik anak memang layaknya menabur benih. Mulai dari pemilihan bibit yang berupa tuntunan untuk memilih pasangan sefikrah, pembibitan yang berupa doa saat berhubungan, gizi, dan kondisi tubuh yang baik, lalu ‘memindahkan’ bibit ke lahan sebenarnya, kehidupan.

Saat menanti ‘si padi’ siap panen pun tidak lantas kita bisa berleha-leha. Ada hujan atau kerontang berlebihan yang bisa mengancam, ada gulma dan hama yang mengintai mangsa, juga pupuk yang musti tepat takaran. Jika semua tidak cermat diperhitungkan, bersiaplah untuk menuai hasil yang salah asuhan.

Tanah Baru, 07/12/07 13.56

Yang lagi pura-pura jadi bu guru buat malaikat kecilku


Add a Comment